Alam dan Budaya di Jatiluwih Bali

Sejatinya indah…makna dari Jatiluwih, salah satu desa di Bali yang terkenal dengan areal persawahan berundak atau terasering terbesar di Bali, mungkin pula di Asia Tenggara. Dengan luas 636 hektar, menatap sawah berundak di Jatiluwih layaknya menatap permadani hijau yang membentang sejauh mata memandang.

Bapak Jerry, juru mudi kami sempat terheran-heran dengan tujuan wisata kami. Bukan sekali Pak Jerry tercengang dengan tujuan wisata kami. Namun kami sangat berterima kasih dengan kesigapan Pak Jerry untuk mengantar kami berkeliling ke tempat-tempat yang tak biasa dan agak jauh jaraknya. Beliau hanya sekedar menegaskan tentang jarak yang akan ditempuh agar kami memiliki gambaran seberapa lama kami akan berada dalam perjalanan.

Sekitar 2 jam dari Bali Selatan untuk menuju Desa Jatiluwih-Tabanan, yang berada di Bali bagian utara. Semakin mendekat Desa Jatiluwih semakin sering kami menemui areal persawahan. Lagi-lagi Pak Jerry berujar setengah menggoda

“Apa bedanya mas sawah di Pulau Jawa dengan sawah Jatiluwih nanti, sama-sama hijau, sama-sama padi yang dilihat”

Berlatar pegunungan

Kami hanya bisa terkekeh mendengar celotah Pak Jerry di balik
kemudi. 

Memasuki Desa Jatiluwih kami wajib membayar tiket masuk
sebesar Rp 15.000,- untuk 1 mobil. Aneh memang, Areal persawahan yang berada di
tepi jalan, tapi semua yang melintas di sana wajib membayar tiket masuk
layaknya masuk ke taman hiburan. Tak apalah jika melihat kondisi desa yang
bersih tertata. Belum lagi sejumlah fasilitas pendukung untuk pengunjung
seperti restoran dan warung-warung kecil, toilet dan lahan parkir yang layak. 
Pelinggih kecil di tengah sawah

Berada di ketinggian 700 meter, udara sejuk langsung menyapa
begitu kami beranjak keluar dari kendaraan. Pak Jerry, juru mudi kami ternyata
baru sekali ini menyempatkan diri untuk memarkirkan kendaraannya dan menikmati
Jatiluwih lebih lama. 

“udaranya sejuk
banget ya, lihat hijau-hijau begini jadi segar”

Memandang permadani hijau berundak dengan latar Gunung
Batukaru ini memang terasa seperti sedang melihat lukisan aliran naturalis, indah
tanpa cela. Tak sedikit pengunjung yang mencoba treking di pematang sawah, menikmati alam Jatiluwih sambil sesekali
tersenyum menyapa petani-petani yang membalas ramah dengan “Helloo Mister”.
Treking di pematang sawah

Selain pemandangan indahnya, Jatiluwih terkenal dengan 3
jenis beras yang dihasilkan, beras putih, merah dan hitam. Bahkan menurut
petani sekitar, produksi beras merah lebih diutamakan di Jatiluwih. Produksi
melimpah di Jatiluwih tak lepas dari sistem irigasi Subak yang diterapkan.
Berkunjung ke Jatiluwih memberi pengetahuan baru bagi saya, bahwa Subak tak
sesederhana yang saya bayangkan selama ini. Subak bukan hanya perkara mengalirkan
air dari area tinggi ke rendah. Tapi bagaimana cara memanfaatkan apa yang
diberikan alam dengan sebaik-baiknya. Tidak membiarkan air mengalir tanpa ada
manfaat, dimanfaatkan untuk pertanian, perikanan dan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. 
Pelinggih kecil, Pura Uluncarik/Bedugul untuk memuji Dewi Sri

Subak bahkan memiliki organisasi yang dikepalai Pekaseh yang mengatur bagaimana sawah
akan dibuat, bagaimana sawah akan diairi, berapa lama diberi air, seberapa
banyak air yang akan dialirkan dan yang terpenting seorang Pekaseh harus membaginya dengan adil. Bayangkan betapa hebatnya Pekaseh, sang “arsitek” yang merancang Jatiluwih. Subak pun kental dengan
unsur religi. Tak heran, tersebar di beberapa titik terdapat bedugul (semacam
altar kecil) untuk memuji Dewi Sri, sang dewi kesuburan.

Bukan hanya pemandangan indah tanpa cela dan udara sejuk
pegunungan tapi pengetahuan baru juga kami dapatkan saat berkunjung ke
Jatiluwih. Alam dan budaya benar-benar berpadu di Balinese Rice Terrace ini. Situs warisan budaya dunia telah UNESCO
sematkan untuk Jatiluwih. Bahkan Tyra Banks dengan acara pencarian bakatnya
pernah menjadikan Jatiluwih sebagai lokasi pengambilan gambar.
Situs warisan budaya dunia

Masih menganggap Jatiluwih hanyalah sawah biasa?

Bapak Jerry 0813 3878 9141

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
6 Responses

Leave a Reply