BERBONDONG-BONDONG KE DERAWAN (EDISI KEPULAUAN DERAWAN)

Derawan “sang perawan”…Gugusan pulau yang termasuk dalam kabupaten Berau ini merupakan pulau terdekat dari Kalimantan. Pulau yang tidak terlalu luas ini bisa dijelajahi dengan bersepeda. Untuk penginapan, tersebar di sekeliling pulau, mulai dari yang murah sampai eksklusif. Jangan takut juga kelaparan, disini banyak warung-warung kecil menjual makanan ringan dan makanan berat, souvenir untuk oleh-oleh, dan yang pasti jangan takut mati gaya karena kita bisa tetap eksis karena sinyalnya cukup kencang disini.
Warna Warni Derawan

Entah kenapa, sepulang dari Derawan saya menemukan banyak sekali liputan tentang Derawan, baik itu teman Instagram atau sesama blogger yang ternyata baru saja “mencicipi” indahnya Derawan atau liputan acara jalan-jalan di TV yang menayangkan tentang Derawan. Saya bersyukur karena saya bisa menjadi bagian dari orang-orang yang pernah menginjakan kaki di Derawan dan bisa sedikit sombong kepada teman-teman dengan memamerkan cerita dan foto-foto tentang keindahan Derawan
Derawan dipenuhi Floating Cottage dengan harga yang beragam
Boat yang mengantar kami berkeliling di kepulauan Derawan
Setelah menempuh 3 jam perjalanan dengan ombak yang cukup bersahabat, deretan cottage warna-warni menyambut kita dengan air hijau jernih. Kami menginap di Sari Cottage milik Pak Sanusi. Speedboat kami langsung merapat di dermaga milik Sari Cottage.  Di sini tersedia beberapa floating cottage dengan fasiltas yang cukup lengkap. Mau menggunakan AC atau Kipas angin, silahkan dipilih sesuai dengan budget :). Kamar yang cukup nyaman dengan mineral water, TV (walaupun tidak sempat ditonton sama sekali) dan yang penting Kamar mandi dengan air yang tidak payau.
Menjelang senja di Derawan
Banyak dermaga serupa untuk menunggu senja
Matahari terbenam selalu menyenangkan untuk disaksikan

Berhubung saat kami tiba sudah menjelang sore, akhirnya hari pertama di Derawan kami habiskan dengan mengexplore pulau sambil menunggu sunset. Ada banyak dermaga-dermaga yang menjorok ke tengah laut untuk tempat menunggu matahari terbenam. Di beberapa spot dermaga bahkan kami bisa melihat penyu berenang. Sebagai habitat asli dari penyu hijau dan penyu sisik, sepertinya hal yang biasa kalau kita melihat penyu ber-lalu lalang atau sesekali muncul ke permukaan untuk mengambil napas. Jika beruntung, kita malah bisa menyaksikan penyu bertelur dipantai sebelah timur. Sayangnya kami hanya bisa melihat jejak kaki sang penyu yang muter-muter lalu kembali ke laut. sepertinya si penyu sadar akan kehadiran manusia sehingga dia tidak jadi bertelur.
Malam di Derawan hanya terdengar debur ombak dan sayup-sayup suara penduduk
Kelebihan lain dari Pulau Derawan, karena ukurannya yang tidak terlalu besar, jadi di satu pulau ini kami bisa menikmati sunset dan sunrise sekaligus. Cukup berjalan ke arah berlawan dari sore kemarin, kami bisa menyaksikan sunrise yang jarang sekali bisa kami lihat karena biasanya tidur kebablasan :p. Untuk bisa cepat berpindah lokasi, saat itu kami menyewa sepeda dengan harga Rp.20.000,- untuk digunakan selama 1.5 jam, Sebenarnya bisa disewa perhari, tapi akan jadi mubazir karena kami gunakan mengejar matahari terbit saja. Pagi itu langit lebih bersahabat sehingga kami bisa menangkap momen sunrise dengan lebih leluasa.
Jam 6 pagi di Dermaga
Menunggu mentari pagi
Matahari Pagi

Derawan selalu terkenang
Derawan dengan segala keindahannya, sepertinya layak dijadikan tujuan wisata, minimal 1 kali seumur hidup, tidak akan menyesal mengunjungi pulau ini. Pantai biru jernih, biota laut yang indah, pemandangan terbenam dan terbitnya matahari serta keramahan penduduk setempat jadi 1 paket wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Kepulauan Derawan 12-14 September 2015
Sedikit pesan dari Bapak Sanusi, supaya kita tidak gegabah untuk membeli souvenir. Banyak ditawarkan souvenir dari bahan tempurung penyu atau akar bahar (sejenis tanaman laut) terbayang kan jika kita membeli souvenir sejenis berarti akan ada makhluk hidup yang di bunuh untuk membuat souvenir tersebut. Sangat disayangkan, jika 10 tahun kedepan ada biota yang hilang dari pulau Derawan karena kita beli souvenir tanpa berpikir panjang. 
Derawan “Sang Perawan” semoga tetap terjaga
Satu hal lagi yang mengusik saya dan teman-teman. Beberapa cottage disana membiarkan air pembuangan (mandi ataupun mencuci) langsung jatuh ke laut. Sayang sekali harusnya airnya bisa ditampung dan dialirkan ke darat terlebih dahulu. Jika hal ini berlangsung terus, tidak menutup kemungkinan habitat laut di pantai Derawan akan mati semua karena tercemar air sabun.
Berkejaran dengan Penyu Hijau di Derawan

Pemandangan di bawah Dermaga Derawan (photo by Eaz)
Semakin banyaknya promosi tentang Derawan dimana-mana, bisa dipastikan kedepan akan semakin “Naik Daun”. Ditambah lagi dengan adanya festival Derawan yang sudah dilaksanakan reguler setiap tahunnya. Dengan berbondong-bondongnya turis lokal maupun mancanegara mengunjungi Derawan, semoga kita semua bisa terus menjaga keasriannya, keindahannya dan statusnya sebagai Derawan si “anak perawan” 🙂

Jalan Jalan Jeprat Jepret
Pulau Derawan by Google Map
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
20 Responses
  1. Ah Derawan, masih berharap mau ke sini someday 🙂

    Saran dikit ya bro, tampilan untuk preview foto nya kurang maksimal nih, males klik satu2 buat liat foto maksimal nya, preview nya di perbesar lagi aja jadi 600px haha..

    Btw foto underwater nya bagus banget, itu pake kamera seri apa ya? dari dulu pengen foto sendiri kaya begitu, hasil nya malah surammm haha

Leave a Reply