LEMBAYUNG BALI DI LANGIT JIMBARAN

Menatap lembayung di langit Bali dan kusadari betapa berharga kenanganmu

Sore itu, berselang 12 tahun saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Pantai Jimbaran. Masih dengan riuh rendah yang sama, barisan rumah makan menghalangi sebagian besar pemandangan pantai di Jimbaran. Tanpa permisi saya melangkah kedalam salah satu rumah makan untuk mengambil jalan pintas menuju bibir pantai. Hampir pukul 6 sore saat itu, tak ada satupun pelayan yang menyapa saya. Mereka semua terlihat sibuk hilir mudik mempersiapkan pesanan dari pengunjung.

Di kala jiwaku tak terbatas
bebas berandai mengulang waktu

Terus berjalan hingga pasir menyentuh ujung jari kaki saya, yang saya lihat hanya ratusan meja makan yang
berserakan di atas pasir Jimbaran. Tepat seperti yang terekam dalam ingatan saya, Jimbaran adalah salah satu destinasi tersohor untuk menatap indah lembayung Bali sambil menyantap hidangan laut khas Jimbaran. Ratusan manusia duduk menghadapi meja panjang berisi piring-piring kosong yang tertata rapi. Tawa renyah, teriakan gembira anak-anak kecil, wajah-wajah bahagia terlihat jelas di balik bayang temaram lilin. 12 tahun lalu saya pernah menjadi bagian dari mereka. Berkumpul dengan keluarga, bercanda, tak peduli hidangan yang tak kunjung datang. Kebersamaan yang dilatari indah lembayung Bali lah yang menjadi menu utama.

Santap malam berhias lembayung Bali

 

Teman yang terhanyut arus waktu mekar
mendewasa

 

12 tahun berselang, mengenang saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Pulau Dewata, melangkah melewati labirin punggung manusia hingga pasir basah menyentuh telapak kaki saya. Warna-warni Bumi mulai meredup sementara cahaya lilin di belakang saya semakin benderang menerangi meja-meja makan yang kini mulai terisi hidangan dengan aroma menggoda.
Kebersamaan berlatar senja

 

kembalilah sahabat lawasku 
semarakkan
keheningan lubuk

 

Bukan harum ikan bakar yang menghentikan saya, bukan pula kenangan silam di Jimbaran. Saya selalu tertegun terdiam saat menanti sang surya bergulir pulang dibalik garis cakrawala. Entah sihir apa yang merasuk setiap kali terang berganti gelap. Saya sangat menikmati detik-detik saat gelap melahap sang terang. Bukan biru terang yang menyilaukan atau hitam kelam yang mengerikan tapi semburat warna-warni teduh yang memanjakan sang mata. Di ketinggian bersama dengan angin yang menerpa wajah ataupun di pesisir saat air menyapu kaki, saya tertegun terdiam menyaksikan sang surya membakar langit hingga tersisa abu gelap malam.

Menanti senja

 

Bilakah kuhentikan pasir waktu 
tak terbangun
dari khayal keajaiban ini

 

Lembayung Bali di langit Jimbaran
saat itu mampu membuat saya lupa akan keramaian yang menggeliat di belakang
saya. Hanya ada segelintir yang bergabung bersama saya menikmati lembayung Bali
di baris terdepan. Tak salah cara saya menanti senja di Jimbaran, saat yang
lain sibuk dengan kebersamaan dan nikmat santap malam, saya bisa menikmati
senja dengan tenang, sepi, menikmati pudarnya warna-warna teduh berganti pekat
malam.
Lembayung di langit Jimbaran

 

Andai ada satu cara 
tuk kembali menatap
agung surya-Mu

 

Sebelum
beranjak pulang, entah di Jimbaran atau belahan barat manapun di Pulau dewata,
semoga saya selalu bisa menatap agung surya-Mu…….

 

Lembayung Bali
Lembayung Bali-Saras Dewi (2002)
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
7 Responses

Leave a Reply