LOST IN TANAH DELI (ISTANA MAIMUN & MAASJID RAYA, MEDAN DAY 3, 21-25 AGUSTUS 2014)

DAY 3
Medan, saya pribadi berpikir shooting film Fast n Furious seharusnya dilakukan disini. Dibilang
ugal-ugalan juga tidak sebenarnya, tetapi saya harus “salut” dengan
ketepatan dan kegigihan para pengemudi di kota Medan. Jika kita telat sedikit
saja menginjak gas, dipastikan akan ada kendaraan lain yang menyalip di depan
kita dan satu lagi, sepertinya mereka tidak takut kendaraannya akan lecet atau
tergores, pokoknya hajar bleeeh. Kalau
ingin merasakan sensasi salip menyalip di jalanan yang tidak terlalu lebar dan
macet, Jakarta tidak ada apa-apanya dibanding sensasi berkendara di Medan.
 

Masjid Raya Medan

Perjalanan hari ke-2 kami berakhir dengan bermalam di
Berastagi, dari desa Tongging memakan waktu 1 jam dengan rute
Tongging-KabanJahe-Berastagi. Esok paginya perjalanan di lanjutkan menuju Kota
Medan melalui 1-1 nya jalan protokol , Jalan Jamin Ginting, dengan waktu tempuh
2 jam, jika dalam kondisi macet bisa 3 sampai 4 jam. Karena molor-nya upacara
pernikahan teman kami, hancur sudahlah jadwal kami di Medan. Jam 2 siang, kami
baru mulai bergerak dari acara resepsi. Dengan perubahan jadwal, akhirnya kami
memutuskan untuk mengunjungi landmark Medan
yaitu Istana Maimun dan Masjid Raya Medan.

 

Istana Maimun
Istana Maimun Peninggalan Sulthan Ma’moen terletak di jalan
Brigadir Jenderal Katamso, kelurahan Sukaraja, kecamatan Medan Maimun. Dengan
warnanya yang kuning menyala, bangunan ini sangat mudah ditemukan, belum lagi
halamannya yang luas. Menjelang sore, halaman Istana Maimun sering dijadikan
lokasi bermain anak-anak sekitar. Arsitektur bangunan merupakan perpaduan
antara ciri arsitektur Moghul, Timur Tengah, Spanyol, India, Belanda dan yang
pasti unsur Melayu yang kental dengan pemilihan warna kuning keemasan. Jam buka
setiap hari dari jam 08.00- 18.00 WIB, dengan harga tiket cukup 5000,-/ orang.
 

Perpaduan Arsitektur Berbagai Budaya
Pintu Masuk Istana Maimun
Jika berminat, kita bisa meminta pemandu untuk menjelaskan
tentang sejarah Istana Maimun, berhubung ketertarikan kami hanya dengan
makanan, kami cukup melihat-melihat dan mencuri dengar jika ada pemandu yang
menjelaskan sejarah Istana kepada pengunjung lain.
 

Dominasi Kuning Keemasan
Peninggalan Sultan Ma’moen

Didalam istana kita bisa menyewa baju adat melayu untuk
berfoto, lokasinya bebas, cuma memang lokasi favorit pengunjung adalah tahta
kerajaan yang berwarna emas. Tidak banyak memang lokasi yang bisa di jelajahi
dari Museum ini, bahkan di bagian bawah museum digunakan sebagai tempat
tinggal, saya kurang tau, apakah ini pengurus museum atau kerabat yang masih
memiliki hubungan darah dengan raja-raja terdahulu. Yang jelas, pemandangan
jemuran pakaian beserta “jeroan” cukup menganggu pemandangan. Unsur
megah dan agung seketika luntur ketika melihat ada sepeda motor usang terparkir
nyempil dibawah tangga utama. Suasana
tempo dulu langsung hilang ketika ada “kacamata batman” tergantung
dekat pohon di halaman Istana T_T.

 

Tahta Sultan
Peninggalan Sultan Ma’moen lainnya adalah Masjid raya Medan
atau masjid Al-Mashun, yang terletak tidak jauh dari lokasi Istana, di jalan
Singsingamangaraja. Masjid Raya Al-Mashun Medan, memiliki  4 serambi utama – di depan, belakang, dan
samping kiri kanan yang difungsikan sebagai pintu masuk. sebagai penghubung ke
4 serambi itu, ada selasar yang mengitari bangunan Masjid seperti benteng.
Sebenarnya saya ingin sekali melihat indahnya Masjid Raya dari dalam, tapi
karena waktu dan takut menganggu umat yang sedang beribadah, saya urungkan niat
tersebut.
 

Masjid Al-Mahsun
Serambi Sebagai Pintu Masuk
Serambi dan Selasar
Saya hanya sempat melihat tempat wudhu Masjid Raya. Dulu
saya pernah melihat tempat wudhu di Istiqlal, lebih menyerupai selasar panjang
dengan pancuran air. Tempat wudhu di Masjid Raya seperti membawa kita ke
Persia, dengan kolam pancuran di tengah dan langit-langit yang menjulang tinggi
serta lengkungan yang penuh dengan ukiran berwarna putih.
Tempat Wudhu
Selain bangunan bersejarah, yang tidak boleh dilewatkan
adalah kuliner di Medan. Dari yang bernuansa modern di wilayah Merdeka Walk, di
sini banyak resto-resto cepat saji, western
food
atau pun cafe dengan hiburan musik. Ada juga bernuansa timur tengah
dengan Nasi Kandar, Nasi Briyani, lengkap dengan penjual asli India yang
menggenakan kaos dalam putih dan bersarung digulung selutut. agak worry, kumis, jenggot atau rambut-rambut
yang menyembul dari atas lehar kaos itu rontok dan jatuh ke makanan :p.  Yang terakhir dan tidak boleh dilewatkan
adalah Jalan Semarang, dengan nuansa chinatown
street food. This is the best place to eat
“Sapi Kate” atau
“Sapi Kaki Pendek” . Ada juga Martabak Piring, martabak yang efisien
karena sekali lahap langsung habis. 
Mohon maaf kalau tidak ada dokumentasi untuk kuliner-kuliner
ini, karena saya lebih memilih menikmati makan daripada harus foto-foto makanan
saya. Saya bermusuhan sejenak dengan kamera jika sudah ada makanan tersaji,
apalagi yang disajikan si “Sapi Kaki Pendek” itu. :p

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
2 Responses

Leave a Reply