LOST IN TANAH BATAK (SIPISO-PISO & DESA TONGGING DAY 2, 21-25 AGUSTUS 2014)

DAY 2
Manusia berencana, Tuhan pula yang menentukan. Jam10.30 pagi
kami sudah berjalan keluar dari pelabuhan Ajibata. Maksud hati pagi itu kami
langsung melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Sigura-gura, air terjun
tertinggi di Indonesia. Sayangnya, kondisi ban mobil kami bocor, alhasil kami
harus mencari tukang tambal ban. 1 jam kami habiskan untuk menambal ban (tukang
tambal ban yang mengerjakan, tidak mungkin anak-anak tambun ini menambal ban
sendiri), terpaksa kami harus merombak rute perjalanan kami dan merelakan untuk
tidak menyaksikan air terjun tertinggi di Indonesia.
 

Sipiso-piso Permata Desa Tongging

Rute kami ubah menuju ke Air tejun Sipiso-piso, yup, lokasi
wajib setiap wisatawan yang berkunjung ke Sumatra Utara. Air terjun tertinggi
ke 2 di Indonesia ini terletak di utara danau Toba. Kami mengambil rute jalan
Simarjarunjung, menurut warga, jalur ini sering digunakan oleh wisatawan dan
jasa travel karena ini merupakan jalan pintas. Butuh perhatian khusus untuk
menemukan jalan ini, karena dari jalan utama, akses masuk ke Simarjarunjung
hampir tersamarkan seperti jalan yang terbengkalai. Jangan khawatir, ternyata jalannya
cukup bagus tetapi memang jalan ini sepi sekali, mungkin karena banyak yang
tidak tau rute singkat ini jika tidak bertanya kepada warga setempat.  Sepanjang  90 menit  perjalanan terhitung kami hanya berpapasan
dengan 3 mobil pribadi dan 1 bus pariwisata yang membawa Mr dan Mrs Bule,
sepertinya mau menuju ke Danau Toba. Karena sepi, kami bisa bebas berhenti
dimanapun setiap menemukan view yang indah. Jalan disini berkelok-kelok dengan
view danau Toba sepanjang perjalanan. Sekedar info, perlu sedikit hati-hati
disini karena cukup banyak pohon pinus yang tumbang menghalangi jalan.
Simarjarunjung View
Simarjarunjung View 2

Kami tiba di Desa Tongging, Kabupaten Karo sekitar  pukul 15.00, memang perjalanan agak jauh dan
cukup lama, ditambah lagi kami harus berhenti di kawasan Seribu Dolok untuk makan
siang. Setelah membayar tiket masuk dan parkir, dari areal parkir, kita sudah bisa
melihat megahnya air terjun Sipiso-piso, dari ketinggian 120 meter, air terjun
ini mengalir deras layaknya mata pisau yang dijatuhkan, itulah kenapa di sebut
sebagai Sipiso-piso. 
Panorama Sipiso-Piso
Pelataran Parkir
Dari bukit berketinggian 800 mdpl ini, kita juga bisa
menyaksikan danau Toba di sisi bersebrangan dengan air terjun Sipiso-piso.
Salah satu aliran yang bermuara di danau Toba ini adalah aliran air dari
Sipiso-piso. Kemegahan Sipiso-piso dapat disaksikan dengan 2 cara. Yang pertama
adalah dari atas bukit. Kita bisa melihat bukit hijau yang ditengahnya mengalir
deras air terjun Sipiso-piso. 

Sipiso-Piso
Ratusan Anak Tangga Menyambut
Yang kedua
adalah menuruni ratusan anak tangga, dan kita bisa merasakan sejuknya air
terjun Sipiso-piso secara langsung. Andaikan disini ada travelator seperti di supermarket, pasti saya dengan senang hati
memilih cara ke 2. Melihat ratusan anak tangga menuruni bukit, saya harus tau
diri untuk hanya sampai di pos pertama. Turunnya mungkin mudah, naiknya??? 
 

Diketinggian Desa Tongging
Danau Toba dari 800 mdpl
Setelah menikmati wilayah Tongging dari ketinggian, kami
melanjutkan perjalanan menuju ke desa nelayan yang masih dalam wilayah
Tongging, tapi terletak persis berbatasan dengan tepi Toba. Menuju ke desa di
tepi danau ini perjalanannya cukup menantang,berkelok-kelok menurun di tepi
tebing yang curam. Dengan pemandangan bukit hijau dan sepoi-sepoi angin sore, perfect buat penumpang, horor buat pengemudi
:D. Deritanya lengkap, tidak bisa menikmati pemandangan karena harus
berkonsentrasi dengan jalanan yang curam dan berkelok-kelok, ditambah angin
sepoi-sepoi yang membuat kantuk seketika :p. 

 

Desa Nelayan
Danau Toba
Desa Nelayan 2
Sebenarnya jaraknya tidak jauh,
tapi karena jalan yang berkelok-kelok dan perlu lebih waspada membutuhkan waktu sekitar  30 menit untuk sampai ke desa tepi danau ini.
Desa ini cocok untuk melepas lelah setelah perjalanan jauh. Kondisi desa yang
tenang, dengan jejeran warung di tepi danau, pas untuk charge energi. Semangkok mie rebus dengan potongan rawit dan teh
manis hangat paling pas menemani sore sejuk di desa Tongging.

Adventure is Out there

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
4 Responses

Leave a Reply