LOST IN TANAH KARO (SINABUNG & LAU KAWAR, 21-25 AGUSTUS 2014)

Lokasi terakhir yang kami kunjungi di Sumatra Utara adalah
Gunung Sinabung dan Danau Lau Kawar. “Ngapain
lu nyamperin gunung aktif”
Begitu kira-kira reaksi orang yang
mendengar destinasi wisata kami yang terakhir ini. Gunung dengan ketinggian
2.460 meter dinobatkan sebagai puncak tertinggi di wilayah Sumatra Utara .
Menuju ke Sinabung menempuh waktu perjalanan sekitar 1 jam dari Pasar
Berastagi. Ada penunjuk arah menuju Sinabung di mulut jalannya. Tidak sulit
untuk menuju ke Sinabung karena memang hanya ada 1 jalan yang bisa kita lalui.
Jalannya sedikit sepi dan agak berkelok-kelok. Dari kejauhan gunung Sinabung
sudah bisa terlihat.

Gunung Sinabung dengan Hamparan Lahan Kering

Walaupun mudah, jujur saja kami sedikit “ngeri”
mengunjungi lokasi ini. Sewaktu berangkat kami sempat menanyakan kepada
resepsionis hotel apakah Sinabung bisa dikunjungi. Menurut pihak Hotel,
Sinabung saat itu masih bisa dikunjungi walaupun statusnya saat itu masih
waspada. Info lainnya adalah banyak desa yang sudah ditinggal oleh penduduknya. 

Akses Satu Jalan Menuju Sinabung

Desa-Desa Tertinggal

Nah inilah yang membuat kami sedikit “merinding disko” bukan karena
cerita hantu, tetapi pada saat kami mulai mendekat ke kaki Sinabung, suasana
semakin sepi dan banyak rumah-rumah kosong. Yang kami takutkan adalah tindak
kriminalitas, pencurian atau perampokan kendaraan. Ditambah lagi, mungkin karena
bekas letusan, jadi ada beberapa jalan yang tidak ada di Google Maps. Insting Dora The
Explorer
kami sepertinya harus lebih bekerja dibanding Google Maps.

Danau Lau Kawar
Berada persis di kaki Gunung Sinabung, perjalanan kami
lanjutkan ke Danau Lau Kawar terlebih dahulu. Danau ini terletak persis di Kaki
Sinabung. Biasanya Lau Kawar digunakan para pendaki untuk camping sebelum mendaki Sinabung. Saat letusan terjadi, Lau Kawar
tidak tersentuh oleh lahar panas. Jika Berada di Lau Kawar, kita tidak akan
mendugabahwa telah terjadi letusan hebat dari Sinabung. Kondisinya
benar-benar hijau dengan danau yang tenang, berbeda jauh dengan sisi sebaliknya
dari Sinabung yang gersang dan tandus akibat letusan Sinabung.

Suasana Tenang

Pintu Masuk Pendakian Menuju Sinabung
Setelah beristirahat di Lau Kawar, saat menuju pulang kami
sempat berhenti di beberapa titik yang terkena dampak letusan. Tandus dan
kering yang terlihat sepanjang kami berjalan. Bahkan dibeberapa titik bau
belerang masih tercium cukup kuat. Sekitar 15 menit kami sempat mengabadikan
Sinabung, tiba-tiba kepulan asap keluar dari puncak gunung dan terdengar
gemuruh. Kami langsung lari menuju mobil dan tancap gas. Perjalanan pulang pergi yang
menegangkan saat kami ke Sinabung. Pergi was-was dengan tindak kriminalitas,
pulang was-was karena Sinabung “bersendawa”. 

Sinabung Masih Dalam Status Aktif
Tandus, Terkena Dampak Letusan
Menurut informasi,
sampai saat ini masih sering terjadi letupan-letupan kecil di Sinabung. Kami
bersyukur karena setelah Gunung Kelud, sekali lagi kami bisa menyaksikan gunung
api yang aktif. Semoga aktivitas Sinabung bisa terus menurun dan warga setempat
bisa kembali membangun desanya.

Tancap Gas Setelah Sinabung “Bersendawa”
5 Hari di Sumatra Utara, dimana “cuci mobil”
mempunyai nama yang lebih keren yaitu “Doorsmeer”. Banyak pengalaman baru kami temukan disini. Indahnya pemandangan alam di Samosir, Sipiso-piso,
Tongging. Nikmatnya sambal Andaliman. Makan Duren sampai harus kucing-kucing-an dengan petugas hotel
(sekali seumur hidup saya menemukan duren untuk sarapan-makan siang-makan
malam, beruntung kolesterol saya bersahabat). Belajar sejarah dan memacu adrenalin
berkendara di Kota Medan. Was-was mendengar 
Sinabung bersendawa dan yang terakhir mendinginkan suasana di Kota
Berastagi. 
Semoga semakin bertambah wilayah di Sumatra yang bisa saya
eksplor 🙂

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.

Leave a Reply