Mungkinkah Mengurai Kemacetan Jakarta?

Kemacetan di Jakarta sepertinya dirasa kini sudah bukan lagi menjadi hal yang aneh bagi warga Jakarta ataupun warga di kota-kota satelit seputaran Jakarta yang bermobilisasi di Ibukota saat jam-jam produktif. Beberapa atau mungkin banyak malah merasa macet adalah salah satu rutinitas yang memang wajib dilalui setiap hari. Banyak orang rela bangun lebih pagi supaya bisa sampai di kantor, sekolah atau manapun tepat waktu. Berapa banyak yang menjadikan alasan kemacetan saat terlambat dan dimaklumi? Sebegitu hebatnya kemacetan sampai mampu merubah ritme seseorang dan menolerir keterlambatan.
Kemacetan Jakarta
Adakah cara mengatasi kemacetan di kota-kota besar, terutama Jakarta? Memang bukan hal mudah dan tidak akan terurai dalam waktu singkat, tapi sebetulnya pemerintah tak tinggal diam. Sejak 2016, Bapak Jokowi membentuk BPTJ (Badan Pengawas Transportasi Jabodetabek) untuk sedikit demi sedikit mengurai kemacetan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.
Lalu apa yang telah dilakukan oleh BPTJ? Dari bincang-bincang santai dengan BPTJ di Kedai Tiga Nyonya, Senin, 16 April yang difasilitasi oleh Kamadigital,  Maret kemarin telah diberlakukan 3 kebijakan untuk membantu mengurangi angka kemacetan di beberapa titik seperti di Jakarta-Cikampek, Jakarta-Jagorawi dan Jakarta-Tangerang.
Bincang-bincang dengan BPTJ
1. Pengaturan jam operasional mobil angkutan barang setiap Senin-Jumat mulai pukul 6-9 pagi.
Jam-jam padat, dimana semua pengguna jalan mengejar waktu untuk menuju kantor atau sekolah. Tak dipungkiri memang keberadaan mobil-mobil pengangkut dengan dimensi besar dan kecepatan kendaraan yang lambat menghambat laju kendaraan lainnya.
2. Pemberlakuan plat ganjil genap di ruas tol Bekasi Barat dan Bekasi Timur.
Dengan diberlakukannya aturan ini, tentunya diharapkan agar volume kendaraan bisa berkurang.
3. Pemberlakuan lajur khusus bus di tol Jakarta-Cikampek, Bekasi Timur-Jakarta.
Dengan semakin banyaknya pengguna jalan yang beralih ke angkutan umum, diharapkan volume kendaraan pribadi bisa menurun sehingga kemacetan dapat terurai.
Macet bikin stress
Inti dari 3 kebijakan di atas memang untuk mengurangi volume kendaraan yang melaju di jalan raya. BPTJ sangat menghimbau pengguna jalan untuk beralih ke kendaraan umum. Secara mutu, kendaraan umum/angkutan massal di Jabodetabek saat ini memang mengalami perkembangan ke arah yang baik. Armada Transjakarta dibuat lebih nyaman. Kini disediakan pula Transjabodetabek untuk menjangkau kota-kota satelit. Fasilitasnya pun tak kalah dengan angkutan publik di luar negeri dengan disediakannya free wi-fi hingga akses untuk mengisi daya telepon genggam. BPTJ juga mengembangkan beberapa titik parkir dengan tarif flat sebesar Rp 10.000,- untuk pengguna jalan raya yang tinggal di akses yang tak terjangkau angkutan umum. Jadi, pengguna jalan bisa menggunakan kendaraan pribadi hingga ke titik parkir terdekat untuk melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum seperti bus atau commuter line.
 
Pertanyaan besar yang terungkap setelah penjelasan dari pihak BPTJ kemarin, apakah dengan segala kebijakan, perbaikan fasilitas dan peningkatan kinerja lantas bisa memecahkan solusi kemacetan? Tentunya hal-hal yang disebutkan akan menjadi mubazir jika kita selaku pengguna jalan tidak merubah kebiasaan kita dari menggunakan kendaraan pribadi menjadi pengguna kendaraan umum. Jika kita ingin menciptakan Jakarta yang bebas macet, bukan hanya bergantung pada BPTJ saja, tapi kita secara personal juga harus merubah kebiasaan kita, keluar dari kebiasaan manja kita untuk menggunakan kendaraan umum. Kalau di negara-negara tetangga kita rela menggunakan kendaraan umum, lalu kenapa tidak di rumah sendiri?
BPTJS
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
4 Responses
  1. Macet, masalah standar negara berkembang, yg pembangunannya belum benar-benar merata. Orang numpuk di kota besar cari rejeki. Tapi kalau gak dimulai benahi, ya gak kelar-kelar..

Leave a Reply