Melayang 80 Meter di atas Pantai Taman Pacitan

20

Pacitan, siapa tak kenal? Kampung halaman Bapak SBY, kota seribu goa dan punya segudang pantai indah
macam Banyu Tibo atau Klayar. Satu lagi yang menarik di Pacitan adalah wahana uji adrenalin flying fox di Pantai Taman Pacitan.

Tak sulit untuk menemukannya, dari Alun-alun Pacitan ke arah Timur menuju Lorok sejauh 43 Km hingga tiba di perbatasan Pacitan-Trenggalek. Penandanya adalah sign PLTU, tak jauh dari sana ada gapura di sebelah kiri jalan yang berlanjut dengan jalan kecil diapit perumahan warga. Tak jauh, hanya sekitar 200 meter hingga bertemu dengan loket masuk Pantai Taman. Perkepala ditarik Rp 5000,- sebagai tiket masuk.

Pantai Taman Pacitan, sesuai dengan namanya, cenderung sebagai pantai rekreasi dengan tipikal bibir pantai yang memanjang. Di tepi, banyak berjajar warung-warung yang mungkin hanya ramai di kala akhir pekan.

Lalu di mana flying fox Pacitan yang sempat digadang-gadang sebagai flying fox tertinggi dan terpanjang di Indonesia?

Dari loket masuk, tinggal mengarahkan kendaraan ke kanan sejauh 800 meter menuju kaki bukit. Sepanjang perjalanan, sisi kanan dipenuhi dengan tambak-tambak udang sementara di sisi kiri ada beberapa kebun dan 1 kolam renang. Padat dipenuhi anak-anak dan keluarga yang mungkin warga setempat ataupun pelancong yang merasa lebih aman mengajak anaknya bermain di kolam daripada di laut selatan yang notabene berombak besar. Cukup membayar Rp 5.000,- untuk menggunakan fasilitas kolam renang ini. Saya pun tak sempat menanyakan apakah airnya tawar atau asin, namun terlihat cukup jernih untuk berenang. Sebelum menemui ujung jalan, di sisi kiri juga terdapat konservasi penyu. Sayangnya saat itu tukik-tukik baru saja dilepaskan sehingga bangunan ini terkunci rapat.

Penyu sebagai ikon Pantai Taman Pacitan
Penyu sebagai ikon Pantai Taman Pacitan

Jalanan ini berujung di satu kolam renang yang ukurannya lebih besar dari kolam sebelumnya. Persis bersisian dengan tebing cadas dan laut lepas dengan patung penyu besar yang bertengger di atas batu karang. Hanya ada lokasi kecil untuk memarkirkan kendaraan, mungkin akan lebih nyaman memarkirkan kendaraan di kolam renang pertama dengan lapangan yang lebih luas, karena titik turun flying fox pun tak jauh dari kolam ini.

Mendaki ke atas bukit untuk menjajal flying fox
Mendaki ke atas bukit untuk menjajal flying fox

Untuk menguji adrenalin, nyatanya saya harus mendaki tebing hingga diketinggian 80 meter. Jalan masuknya sedikit tersembunyi di belakang bangunan setengah jadi di samping kolam. Hanya jalan setapak menembus ilalang yang berujung pada tangga beton. Jangan senang dulu, tangga beton ini hanya ada di ¼ perjalanan. Sisanya, tebing yang dipapas sehingga lebih mudah untuk dipijak. Perjalanannya memang tak lama, sekitar 10 menit, tapi ditengah terik matahari, saran saya bawalah air mineral untuk diminum sebelum meluncur.

Pemandangan Pantai Taman pacitan yang jadi primadona
Pemandangan Pantai Taman pacitan yang jadi primadona

Flying fox Pacitan sempat menyandang flying fox terpanjang dan tertinggi dengan total lintasan sepanjang 450 meter dari ketinggian 80 meter. Namun kini predikat itu sudah diambil oleh Tretes Treetop di daerah Pandaan dengan panjang lintasan mencapai 1000 meter. Namun menurut bapak operator flying fox, pengunjung lebih menyenangi sensasi “terbang” di Pantai Taman karena memiliki view ke laut lepas, sedangkan di Tretes viewnya berupa pohon-pohon saja. Dan lagi, untuk menguji adrenalin di Pantai Taman sangat terjangkau, hanya dengan Rp 30.000,- untuk meluncur kurang lebih selama 1 menit dari ketinggian 80 meter.

Flying Fox di Pantai Taman Pacitan
Kemananan terjaga

Secara perlengakapan, flying fox Pantai Taman sepertinya cukup memadai dengan harness dan perawatan rutin setiap minggu seperti pengecekan kabel dan pelumasan kabel dengan oli agar bisa meluncur tanpa terhambat. Beban maksimal flying fox ini sebesar 100 kg. Sebenarnya bisa lebih dari itu, tapi bapak operator mengaku “kasihan teman saya yang menahan laju di bawah kalau terlalu berat” ujarnya sambal menyeringai.

Siap meluncur dari flying fox taman pacitan
Siap meluncur dari flying fox taman pacitan

Ini pengalaman pertama saya menaiki  flying fox dari ketinggian 80 meter pula. Kali kedua saya harus menggantungkan nyawa kepada seutas tali/benang. Sebelumnya yaitu saat tergantung 60 meter di Goa Jomblang. Saran saya, yakin saja kalau peralatannya aman. Sepertinya bisa meredam rasa phobia pada ketinggian. Nikmati pemandangan super indah Pantai Taman dan hembusan angin. Duduk santai di harness dan tinggal meluncur.

450 meter ditempuh dalam waktu 1 menit, dijamin ketagihan meluncur di flying fox Pantai Taman Pacitan. Sepertinya benar adanya, pemandangan laut lepas menambah daya tarik dan memacu adrenalin lebih kencang. Apalagi harganya pun sangat terjangkau. Yang menjadi halangan buat saya hanya satu, trekkingnya…… abang lelah dekkkkk!

Baca juga: Goa Gong, goa warna warni di Pacitan

***

Catatan C4ME :

  1. Pastikan kendaraan prima karena jalur yang dilalui berliku menembus bukit
  2. Pastikan bahan bakar kendaraanmu cukup
  3. Ada 1 penginapan dekat Pantai Taman Pacitanyang cukup baik dengan harga terjangkau, yaitu Hotel Surya Dharma dengan rate 100-400 ribu
  4. Jam operasi flying fox saat weekdays adalah 09.00-14.00, sementara saat weekend 09.00-16.00
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
20 Responses
  1. Aku bisa membayangkan betapa serunya melintas atau melayang lewat flying fox di atas pantai secantik ini. Tingginya pasti juga tidak berasa, karena laut lebar di bawahnya

  2. Asik banget melayang di atas pantai. Berasa Mantili gak siih? Sambil teriak2 gitu. Harganya murah pulak. Dibookmarked dulu. Kalau ke pacitan mau mampir. Tapi ngurusin badan dulu, kasian Abang yg nahan bebannya

  3. Aduh, gue nggak tau apakah berani main flying fox di sini. Fobia gue terhadap ketinggian cukup parah soalnya. Loncat di Green Canyon aja gue nggak berani, hahaha. Pandaan tuh di Jawa Timur juga ya koh?

    Anyway, banyak kok yang nggak tau Pacitan, bahkan yang sesama orang Jawa sendiri 😀

Leave a Reply