Edisi Kepulauan Derawan: Tercengang di Maratua

Pulau ke-2 yang kami kunjungi setelah pulau Derawan adalah Pulau Maratua. Untuk menuju pulau ini dibutuhkan waktu sekitar 1 sampai 1.5 jam. Perjalanan menuju Maratua dihiasi oleh bunyi “jackpot” dari teman teman peserta opentrip. 4 orang dengan sukses mengeluarkan kembali sarapan nasi gorengnya dari perut menuju ke kantong plastik. Seketika itu kantong plastik dan minyak angin jadi barang berharga, coba saat itu ada monyet ekor panjang, pasti terjadi jambak menjambak merebutkan kantong plastik :p. Saya akui perjalanan menuju Maratua cukup menegangkan karena ombak sangat besar.

Dermaga Maratua Resort
Dermaga Maratua Resort
Mendekati pulau Maratua, warna perairan berubah menjadi hijau tosca jernih karena dasar lautnya yang berpasir putih. This is Maldives from Indonesia. Rasanya ingin banget langsung nyemplung dari
atas speedboat. Selama ini mungkin melihat Maratua dari internet dengan anggapan “fotonya pasti diedit”
tapi ternyata asli seasli-aslinya, perairannya jernih banget. Walaupun ga berkoral, dari atas dermaga kita bisa melihat ikan-ikan berenang, dan yang pasti kawanan penyu lebih banyak terlihat dipulau ini. Dari beberapa pantai yang saya kunjungi, mungkin ini adalah pantai dengan air terbersih yang PERNAH saya kunjungi.
Penginapan terapung
Penginapan terapung
Fasilitas lengkap
Fasilitas lengkap
Dipulau ini ada 1 resort, Maratua Paradise Resort (anehnya milik orang Malaysia). Satu-satunya penginapan yang ada di Maratua, sisanya adalah homestay milik warga. Resort ini punya 2 type penginapan, Water Villa yang ada diatas air (sama seperti Sari Cottage) dan Beach Challet yang ada ditepi pantai. Yang pasti penginapan disini terlihat lebih eksklusif karena harganya pun pasti lebih mahal di banding cottage di Derawan.
Welcome to water villa
Welcome to water villa
Jernihnya Maratua
Jernihnya Maratua

Puas menikmati air jernih dan pasir putih, masih di pulau ini, kami di ajak untuk memasuki Goa, entah apa namanya Goa ini karena sepertinya ini adalah lokasi tambahan yang tidak ada di jadwal perjalanan.
Untuk menuju ke Goa ini, kami menggunakan mobil bak terbuka (persis seperti ternak yang di giring masuk kandang :p). Menjelajahi pulau Maratua, kami dapat melihat kehidupan penduduk lokal. Disini relatif sepi, lebih tradisional dibanding Derawan. Yang menakjubkan ada Ibu penjual es puter keliling yang
rasanya nikmat banget dengan potongan buah lokal dengan rasa serupa buah nangka. Harganya?? cukup 1.500,-. Ini hebatnya penduduk lokal yang belum tercemar dengan “otak matre”, saya yakin si Ibu tau kalau yang beli adalah anak-anak kota yang kehausan, beliau jual 5.000,- pun pasti kita beli. nyatanya si Ibu tetap menjual dengan harga standar. Salut, semoga rejeki beliau selalu dimudahkan.

15 menit berjubel di mobil bak terbuka layaknya ternak :p, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melintas di atas dermaga kayu yang cukup “horor” karena beberapa kayu sudah terlepas dan berbunyi cukup nyaring saat kita melintas, agak takut jembatan itu tidak dapat menahan beban 15 anak kudanil yang hiperaktif ini. Hampir tiba diujung jembatan, Bapak Sanusi menunjuk ke arah kiri, sekitar 20 meter disebrang dermaga, mulut Goa menganga setengah terendam air laut. “Gimana caranya kesana pak?”
“Loncatlah kalian dari sini, berenang kesana” Pak Sanusi menjawab dengan datar sedikit nyebelin. OK,
ini pengalaman pertama saya harus loncat dari ketinggian 3 meter, langsung menuju ke laut tanpa pelampung dan harus berenang melawan arus menuju Goa tersebut. “Cepetaaaan, durasi kita habis disini, JANGAN KELAMAAN!!” Teriak Pak Sanusi. Ini Liburan apa test masuk Angkatan Laut sih?? T_T
Dermaga menuju goa
Dermaga menuju goa
Satu-satu kami memberanikan diri untuk loncat “Ini cuma 3 meter, ga dalem, ga usah takut” Ini agak rancu, mau menakut-naktui atau menyemangati kami ya, Pak Sanusi ini. Cukup menguras tenaga berenang di laut berombak tanpa pelampung. Saya percaya semahir-mahirnya orang berenang di
Kolam, saat nyemplung di laut pasti ada perasaan takut juga. Mendekati mulut Goa kami sudah bisa menjejakan kaki di dasar, hanya harus ekstra hati-hati, cukup banyak batu karang tajam. Beberapa
dari kami sempat terantuk batu karang dan berdarah.
Mulut goa
Mulut goa
Goa ini tidak sepenuhnya tertutup, di bagian perut Goa, ada lubang besar di atapnya, jadi dibagian dalam Goa tetap terang disinari oleh cahaya matahari. Cukup indah dan menantang untuk menuju Goa ini. Setelah itu, masih ada PR bagi kami untuk berenang kembali ke dermaga, pertanyaannya??
Gimana cara naik ke atas dermaga setinggi 3 meter ???. Alhasil kami merayap-merayap di tiang dermaga yang licin berlumut. belum lagi binatang-binatang kecil yang merayap keluar entah dari mana saat kami pegang tiang berlumut itu hihi.
Kondisi di dalam goa
Kondisi di dalam goa
Pulau Maratua, sukses membuat kami tercengang dengan keindahannya. Salah satu pulau yang wajib dikunjungi jika kita ke Derawan. Maldives-nya Indonesia, mungkin bisa dibilang begitu karena jernihnya perairan di sekitar Maratua. Jadi buat apa jauh-jauh ke luar negeri kalau Indonesia juga punya :). Siap-siaplah tercengang disini 🙂
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
28 Responses
  1. mimivia via

    Astagah koh lagi2 aplot beginian, makin gbs move on.. itu anak kudanil disebut trs tp ga diliatin wujudnya.. no pic hoax hahhaaaa

  2. mimivia via

    ahahahaa lagi-lagi kudanil… TIPS biar ga jekpot itu duduknya di pinggir biar kena angin dan guyuran ombak besar PLUS ditindih sama kudanil kayak kamu koh ahahaa.. tp jujur ini trip istimewa selama hidupku #eeaaaa thankyou travelmate :*

Leave a Reply