Potensi Wisata Hutan Mangrove Tanjung Batu

Matahari sudah hampir tiba di pembaringannya ketika kami berhamburan dari kendaraan yang mengangkut kami, teman-teman blogger dan media. Jalan aspal yang baru saja kami lalui menemui ujungnya yang langsung berbatasan dengan laut. Hanya ada tangga kayu kecil untuk membantu turun dan naik perahu. Sementara di sisi kanan dan kiri jalan beraspal, tertata rapi jembatan kayu yang menembus masuk ke dalam hutan mangrove.

Kedatangan kami kali ini memang bukan sekadar “jalan-jalan”. Kami, memenuhi undangan dari Java Learning Center (Javlec) bermaksud untuk membantu memromosikan Kampung Tanjung Batu dengan potensi wisata hutan mangrovenya. Selama ini Kampung Tanjung Batu hanya dilewati begitu saja oleh para pelancong yang hendak bertolak ke Derawan atau Maratua, padahal di Tanjung Batu sendiri memiliki potensi wisata berupa hutan mangrove yang sangat luar biasa.

Baca juga: Edisi Kepulauan Derawan, tercengang di Maratua

Mangrove kecil
Mangrove kecil

Hutan mangrove di Kampung Tanjung Batu memiliki luasan wilayah sekitar 3.7 hektar yang terbagi menjadi 2 track. Track pertama, tak begitu panjang, yang akan mengantar kita ke arah Pusat Informasi Mangrove. Saat ini bangunan yang mengusung tema rumah panggung sudah berdiri. Nantinya, bangunan inilah yang akan berfungsi sebagai Pusat Informasi Mangrove. Akan ada ruang pamer pajang dan ruang informasi tentang mangrove yang ada di hutan mangrove Kampung Tanjung Batu. Setidaknya ada 42 jenis mangrove yang tumbuh di sini dan ada yang sudah berusia ratusan tahun. Nantinya di sini juga akan berdiri rumah adat dan kedai makan serta minuman. Sementara track kedua, dengan panjang 1.2 kilometer, lebih disebut sebagai jogging track.

Jalan lebar dan nyaman di Mangrove Tanjung Batu
Jalan lebar dan nyaman di Mangrove Tanjung Batu

Dari awal saya langsung dibuat kagum dengan kondisi jogging track. Tanpa ada tangga, hanya menggunakan ramp dan tracknya pun dibuat lebar. Karena apa? Pengelola menginginkan track mangrove ini juga mudah diakses oleh saudara-saudara kita yang difabel. Track ini diklaim sangat aman untuk dilintasi oleh kursi roda. Lebarnya pun telah diantisipasi agar saat ada 2 kursi roda bertemu dari arah berlawanan masih tetap bisa melintas dengan leluasa.

Beberapa kali saya mengunjungi mangrove di beberapa lokasi, saya bisa berkata bahwa hutan mangrove Tanjung Batu adalah yang terbaik yang pernah saya kunjungi. Jika di lokasi lain, yang saya rasakan adalah kondisi hutan mangrove yang sudah tak alami lagi. Terlalu banyak pembangunan ini dan itu yang justru malah menelan ke”alami”annya. Berbeda dengan di Tanjung Batu yang masih sangat terjaga. Saya sempat terpisah dari rombongan karena terlalu asyik mengambil gambar, namun justru saya bisa merasakan betapa tenangnya hutan mangrove ini. Suara-suara hewan yang menghuni hutan mangrove masih terdengar jelas. Suara gesek dedauan dan riak air yang memecah di batang-batang mangrove masih mengalun indah. Rimbunnya pohon-pohon mangrove pun mampu membuat suasana di sepanjang track menjadi teduh.

Baca juga: Edisi Kepulauan Derawan, renang di Kakaban, termenung di Sangalaki

Mangrove Tanjung Batu Menyatu dengan alam
Menyatu dengan alam
Mangrove Tanjung Batu memiliki Pemandangan ke laut lepas
Mangrove Tanjung Batu memiliki Pemandangan ke laut lepas
Di hutan Mangrove Tanjung Batu bisa menikmati sunset
Bisa juga sambil menikmati sunset

Selain melintas di tengah hutan mangrove, beberapa ruas track ini juga dibuat mengelilingi sisi luar hutan mangrove. Terdapat 2 buah gazebo sebagai tempat berisitirahat sekaligus untuk menikmati pemandangan ke arah laut lepas. Jika langit cerah, kita juga bisa menikmati matahari terbenam dari sisi terluar track. Di salah satu sisi bahkan dibuat anjungan yang menjorok ke tengah laut dengan menara pandang di ujung anjungannya. Pembangunan gazebo dan menara sepertinya memang sengaja ditempatkan sedikit menjorok ke laut agar tidak mengorbankan pohon mangrove yang ada.

Gazebo di Mangrove Tanjung Batu untuk beristirahat
Gazebo di Mangrove Tanjung Batu untuk beristirahat
Menara pandang Mangrove Tanjung Batu
Menara pandang Mangrove Tanjung Batu
Dari atas menara Mangrove Tanjung Batu
Dari atas menara Mangrove Tanjung Batu

Saya sangat merekomendasikan kepada para pelancong yang menuju atau pulang dari Derawan atau Maratua, sempatkan untuk berkunjung ke hutan mangrove Tanjung Batu. Potensi ekowisata baru di Kampung Tanjung Batu yang dikelola secara bersama-sama oleh Javlec, pejabat dan masyarakat setempat. Di sini tak hanya sekadar berwisata, tapi kita juga bisa sambil berolahraga, menambah ilmu dan membantu perekonomian penduduk setempat.

Baca juga: Tempat wisata di Kalimantan lainnya yang bisa kamu kunjungi

Jalan jalan jeprat jepret di Mangrove Tanjung Batu
Jalan jalan jeprat jepret di Mangrove Tanjung Batu
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
14 Responses

Leave a Reply