Perjalanan Panjang Menuju Curug Citambur Cianjur

41

Lelah teramat sangat yang merengkuh tubuh. Sejak pukul 7 kami beranjak meniti jalan saat mungkin sebagian penghuni ibukota masih menggeliat malas di peraduannya. Entah sudah berapa kali kami saling melempar tanya, “dimana gerangan sang curug?”. Saat matahari tepat berada di atas kepala, kami rasakan euphoria kami hampir menguap sepenuhnya. Terakhir kali kami melihat peta di gawai kami, tertulis masih 4 jam untuk sampai ketujuan. Sudahlah, nikmati saja sisa perjalanan kami.

Tak tahu berapa desa yang sudah kami lintasi, berapa hutan yang sudah kami tembus. Tak terhitung berapa kali mentari meringkuk di balik awan menyisakan ragu akan turunnya hujan, sesaat kemudian awan berlalu pergi mencerahkan harapan akan langit biru. Pemandangan silih berganti, hamparan hijau perkebunan teh, tepi tebing yang menyajikan pandangan lepas perbukitan jauh di seberang hingga deretan rumah penduduk mungil dengan lambaian anak-anak kecil yang riang bermain di tepi jalan.

Memasuki Desa Karang Jaya, baru kali ini saya menyaksikan sebuah desa berlatarkan air terjun. Tak hanya 1 tapi dari kejauhan saya bisa melihat bukit-bukit hijau yang dialiri curahan air meliuk-liuk bak selendang putih yang terurai menjuntai membelah bukit.

Namun hanya ada satu curug besar setinggi kurang lebih 100 meter, tercurah membasahi bumi, Curug Citambur.

Curug Citambur yang tingginya lebih dari 100 meter
Tingginya lebih dari 100 meter

Baca juga: Legenda Bidadari di Curug Siputri, Kuningan

Tepat berseberangan dengan kantor Desa Karang Jaya terdapat gerbang kayu menuju Curug Citambur. Kami kembali bersemangat saat melintas jalan kecil berbatu yang sedikit menanjak selepas melewati danau kecil, Situ Rawa Suro. Sedikit menyulitkan memang karena jalan yang dilalui benar-benar jalan berbatu dalam posisi menanjak dan hanya selebar 1 badan mobil. Tak disangka selepas jalan ini, area parkir Curug Citambur tertata dengan rapi. Di sebelah kiri berjajar loket dan warung penjual makan dan minum. Akses setapak menuju curug telah dilengkapi dengan taman kecil penuh bunga. Tak lebih dari 5 menit berjalan kaki dari area parkir untuk menyaksikan megahnya Curug Citambur.

Curug Citambur Tertata rapi dengan taman bunga
Tertata rapi dengan taman bunga

Hembusan air Citambur menerpa bak hujan. Besarnya debit air yang jatuh dan tiupan angin diantara dua tebing menghijau membuat uap air turun bagaikan hujan. Siluet kabut tipis yang mengambang berpadu dengan uap air yang menari di udara, belum lagi hamparan kebun bunga yang mengkilap tertutup bulir-bulir air menjadikan Curug Citambur bak potongan indah cerita dari negeri dongeng.

Cerita rakyat pun bergulir tentang penamaan Curug Citambur. Konon dahulu, Curug Citambur adalah lokasi pemandian para raja dimana saat raja hendak berkunjung, para pengawalnya menabuh gendang yang terdengar hingga ke pelosok desa. Cerita lain yang berkembang, dahulu saat Citambur masih memiliki debit air yang luar biasa banyak, curug ini menimbulkan bunyi berdentum layaknya gendang yang ditabuh.

Basah terkena hembusan uap air di Curug Citambur
Basah terkena hembusan uap air

Derasnya aliran air Curug Citambur menjadikan curug ini tidak dapat digunakan untuk mandi. Curug ini sendiri terdiri dari 2 tingkatan yang menurut warga setempat jika ditotal ketinggiannya hampir mencapai 120 meter. Di tepi tebing terdapat batu mencuat yang sering dijadikan tempat untuk berfoto, namun mengingat kondisi yang selalu basah dan angin kencang yang bisa tiba-tiba berhembus disarankan untuk mencari lokasi berfoto lain yang lebih aman.

Batu yang kerap dijadikan lokasi berfoto Curug Citambur
Batu yang kerap dijadikan lokasi berfoto (bisa menemukan manusia di sisi kanan foto?)

Hilang sudah penat kami saat disapa sejuknya hempas air Curug Citambur. Mungkin ini adalah air terjun setinggi ratusan meter pertama yang bisa saya sambangi tanpa harus berjalan kaki berjam-jam. Perjalanan kami memang menempuh hampir 8 jam dari Jakarta, namun hanya dibutuhkan waktu 5 menit berjalan kaki di jalan setapak yang telah di tata dengan sangat indah.

Lelah kami telah dihapus oleh megah dan indahnya Curug Citambur.

Aliran lanjutan dari Curug Citambur
Aliran lanjutan dari Curug Citambur

 

Catatan C4ME:

  1. Usahakan untuk membawa baju ganti karena pasti akan basah terkena hempasan uap air Curug Citambur
  2. Jalan disekitar curug selalu basah sehingga agak sedikit licin, berhati-hatilah saat sedang berfoto.
  3. 2 rute untuk menuju Curug Citambur, melalui Cianjur kota atau Ciwidey Bandung.
    Melalui Cianjur:
    Cianjur kota-Perintis Kemerdekaan-belok kiri arah Cilaku-Cibeber-Campaka Sukanegara-Pagelaran Sukanegara-belok kiri di Simpang Sinagar- sekitar 40 menit jalan kecil berbatu dan berkelok menuju wilayah Pasir Kuda.Melalui Ciwidey :
    Soreang-Ciwidey-Ranca Bali-Ranca Upas-pertigaan belok kanan-lurus terus hingga ketemu Pasir Kuda (menurut info terakhir jalan ini sedang diperbaiki sehingga diwaktu tertentu akan ditutup)
  4. Usahakan untuk keluar dari wilayah ini sebelum gelap karena beberapa ruas jalan tidak ada penerangan
  5. Semua photo diambil menggunakan kamera HP
Jalan jalan jeprat jepret curug citambur
Jalan jalan jeprat jepret di Curug Citambur
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
41 Responses
  1. Sepupuku ada yang tinggal di desa Sukanegara, Cianjur, dan untuk menuju kesana rasanya jauuuuuh pisan.. Saking terpencilnya dulu suka ada macan melintas di jalan lho..

    Btw Curug Citambur ini cocok buat destinasi adventure berikutnya!

  2. Mantap memang….dulu sekitar tahun 95 belum di kelola…kebetulan dulu kerja di perkebunan teh di atasnya jadi kalau mau ke desa sering lewat jalan setapak disisi kiri air terjun

Leave a Reply