Penuh Makna di Ullen Sentalu

Kali kedua saya menginjakkan kaki di museum sejarah Jawa ini dan sekali lagi saya terpesona dengan keindahan dari museum yang berlokasi di Kaliurang. Tetap saya menobatkan museum ini sebagai
museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Selain sejarah Jawa, banyak pengetahuan umum yang bisa diserap begitu kita menyelesaikan rangkaian tour selama kurang lebih 1 jam.

Ullen Sentalu

“Selamat datang di Museum Ullen Sentalu”

Guide kami menyapa dengan senyum dan suaranya yang renyah. Sambil
berbasa-basi sedikit menanyakan kota asal kami, penjaga membuka pintu masuk
dan mengingatkan untuk tidak mendokumentasikan apapun selama tour berlangsung. Selasar kecil berkelok
menyambut kami dengan naungan pohon-pohon rindang. Suasana di dalam memang
terasa lebih sejuk dan tercium harum tanah basah yang khas sepanjang perjalanan
kami menuju ruang pamer pajang yang pertama.

GUWO SELO GIRI

Bangunan menyerupai bunker yang berada 3 meter di bawah
permukaan tanah. Dinding dari ruangan ini tersusun dari batuan Andesit hasil
letusan Gunung Merapi, percaya atau tidak walaupun ruangan ini terpendam 3
meter di bawah tanah suasana sejuk dan dingin tetap mendominasi seluruh ruangan
di Guwo Selo Giri ini. Pintu masuk dari Selo Giri dibuat rendah sehingga
siapapun yang berkunjung harus sedikit membungkuk, maknanya adalah kita harus
sopan saat masuk ke rumah orang lain dengan cara membungkukkan badan seperti
memberikan hormat kepada sang empunya.

Di dalam Guwo Selo Giri terdapat
2 ruangan, yang pertama berisi lukisan tari-tarian dan perangkat gamelan. pemandu kami menjelaskan bahwa raja-raja jaman dahulu tidak hanya harus mahir berperang
tapi juga harus mahir menciptakan satu tarian (berkesenian). Gamelan pun
mendapat kedudukan penting dalam satu kesenian sehingga seluruh gamelan dalam
ruangan ini memiliki namanya sendiri-sendiri.

Guwo Selo Giri. Sumber : Facebook Museum Ullen Sentalu

Ruangan kedua berisi silsilah
kerajaan Jawa (Mataram) yang terpecah belah menjadi 2 wilayah (Yogyakarta dan
Surakarta) dan seiring berjalannya waktu, masing-masing wilayah ini mengalami
perpecahan kembali sehingga kini ada 4 wilayah yang mendukung terbentuknya
warisan kebudayaan Jawa. Masuk ke dalam lagi, kanan kiri dinding dipenuhi
lukisan dan foto-foto keluarga Sultan. Penjelajahan di Guwo Selo Giri diakhiri
dengan pigura kaca berisi aksara Jawa “Hanacaraka, data-sawala, pada
jayanya, magha-batanga” . Ternyata bukan sembarang susunan aksara tetapi memiliki makna yang
berkisah tentang 2 orang berselisih yang sama-sama memiliki kesaktian dan
akhirnya keduanya tewas.

KAMPUNG
KAMBANG

Tour berlanjut
di antara labirin-labirin yang berdiri di atas kolam. Suasana ini menggambarkan
keadaan perkampungan pada umumnya di Jawa, berkelok-kelok dan berhimpitan
antara 1 rumah dan rumah yang lain. Maknyanya tentu saja untuk selalu membina
hubungan yang erat dengan sesama.

Di Kampung Kambang ini terdapat 5
bangunan sebagai ruang pamer pajang, Ruang Tineke, Ruang Ratu Mas, Ruang Batik Vorstendlanden,
Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan. Masing-masing ruang memiliki
cerita menarik sendiri-sendiri. Misalnya Ruang Tineke, dimana seluruh ruangan
ini berisi surat cinta, puisi-puisi patah hati dan surat berisi penghiburan
untuk Putri Tineke yang hubungan percintaannya tidak disetujui oleh Sultan
hingga akhirnya Putri Tineke melepas status ningratnya untuk mengejar cinta. Atau Ruang Putri Dambaan yang memajang foto-foto Gusti Nurul yang terkenal karena kecantikannya, kabarnya banyak orang-orang terkenal yang hendak mempersunting Gusti Nurul.

Ruangan yang paling menarik buat saya adalah
Ruang Batik. Banyak informasi menarik tentang motif-motif batik. Contohnya
adalah penggunaan motif parang yang dulu hanya boleh digunakan oleh Sultan,
karena motif parang ini identik dengan perang dan hanya Sultan yang berhak
untuk mengobarkan peperangan. Bahkan ternyata penggunaan motif batik pada zaman
dahulu tidak boleh sembarang pakai, ada batik yang hanya boleh digunakan saat
pernikahan, masa berkabung, bahkan saat “cinta lama bersemi kembali”.

Banyak fakta menarik saat memasuki Ruang Ratu
Mas, ruang yang diperuntukan bagi permaisuri Ratu Hemas yang masih berusia belia saat
dipersunting Pakubuwono X yang saat itu sudah berusia 50 tahun. Konon katanya
Beliau (Pakubuwono X) adalah orang kaya pertama di Indonesia dan orang pertama
yang mengimpor mobil dari Eropa yang sekarang ini dikenal dengan Mercedez
Benz. Melihat tubuhnya yang gemuk pun mungkin agak berbeda dengan
Sultan-sultan yang lain. Pakubuwono X menggemukkan badannya agar ada cukup
tempat untuk meletakan lencana-lencana, tanda kebesarannya di seluruh bagian
torsonya (dada). Sedikit pamer apa salahnya, toh beliau adalah orang kaya
pertama di Indonesia :). Karena hartanya melimpah, beliau setiap hari Kamis
sering bertatap muka dengan warga dan membagi-bagikan sedekah, dari situlah
muncul istilah Ngemis (warga yang mengharapkan sedekah pada hari Kamis)
sedangkan untuk warganya sendiri mendapat julukan sebagai Pengemis.

Pakubuwono X
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kasunanan_Surakarta

Sebelum melanjutkan penjelajahan, pengunjung
diperkenankan untuk istirahat di salah satu ruang dan diperbolehkan untuk
berfoto di sini. Pengunjung juga akan disuguhkan minuman awet muda resep
rahasia dari Gusti Nurul yang terkenal cantik dan menjadi dambaan banyak orang, sudah 2 kali saya minum ramuan yang terasa
manis dan hangat di badan ini semoga efeknya benar-benar manjur untuk membuat
saya tetap awet muda :p.

Ruang istirahat dengan suguhan ramuan awet muda

SASANA SEKAR BAWANA

Melanjutkan perjalanan di Ullen Sentalu menuju
ke ruang terakhir yaitu Sasana Sekar Bawana. Namun sebelumnya kita diajak melintas
di koridor Retja Landa, berisi arca-arca yang konon katanya berusia ratusan
tahun. Selain tidak boleh memotret, pengunjung juga dilarang menyentuh koleksi
arca di sini karena di khawatirkan keringat yang bersifat asam dapat merusak/mengerus
kondisi arca.

Yang langsung menarik pandangan saat masuk di
Sasana Sekar Bawana adalah 2 patung pengantin wanita dalam ukuran yang besar,
di sebelah kiri pengantin wanita dari Surakarta sedangkan sebelah kanan berasal
dari Yogyakarta. Riasan bukan sembarang riasan untuk terlihat cantik, semua
atribut yang dikenakan pengantin ini memiliki makna masing-masing, contohnya chunduk
mentul (bunga di atas kepala) yang diletakkan menghadap belakang yang
bermakna bahwa kecantikan tidak hanya dilihat di muka saja, tetapi harus dari
dalam diri. Penggunaan ornamen di dahi (seperti mata ketiga) ini juga bermakna,
sebagai seorang istri harus jeli dan pandai melihat segala situasi. Termasuk
penggunaan cincin yang ternyata setiap jari memiliki makna sendiri-sendiri,
hanya jari tengah saja yang tidak boleh dipakaikan cincin karena sebagai jari
tertinggi, jari tengah memiliki makna ke-Tuhan-an.

Lukisan 9 putri yang sedang menari menjadi
penutup rangkaian tour di Ullen Sentalu. Tari Bedhaya Ketawang yang
menampilkan 9 putri pilihan untuk mementaskan tarian tersebut. Yang unik
terlihat 1 bayangan wanita sebagai sosok ke 10 yang diyakini sebagai Kanjeng Ratu
Kidul yang ikut menari. Dari cerita tarian ini juga persepsi kami tentang sosok
ke 10 ini diluruskan, ternyata Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul adalah 2
tokoh yang berbeda. Penguasa pantai selatan adalah Kanjeng Ratu Kidul sedangkan
Nyi Roro Kidul hanya patih dari Kanjeng Ratu, selain tentunya ada patih lain
yang bernama Nyi Blorong.

1 jam tanpa terasa kami habiskan untuk
menyerap semua informasi yang diberikan guide kami. Sangat menarik,
banyak pengetahuan baru yang bisa didapat walaupun agak sedikit sulit untuk
mengingat semua info yang dilontarkan oleh guide. Terakhir kami
diperbolehkan untuk berfoto di replika fragmen Candi Borobudur yang di letakan
secara miring. Sebelum beranjak pergi guide kami sekali lagi memberikan
informasi tentang fragmen yang dibuat miring ini.

Minat akan sejarah yang terus merosot

“Maknanya adalah untuk menggambarkan bahwa saat ini minat anak muda
terhadap sejarah sudah sangat minim bahkan terus menurun”

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya
Berita duka cita, Tanggal 10 Oktober 2015, Gusti Nurul sang Putri Dambaan telah meninggal dunia di usia 94 tahun.
Semoga jalan Beliau dilapangkan dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya.

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
5 Responses

Leave a Reply