Pengalaman pertama Paragliding di Bali bersama RIUG Paragliding

Memang ya Bali itu gak bisa diem banget! Gak salah juga dong jadinya kalau memutuskan setiap tahun untuk break dan liburan ke Bali. Saya bukan pecinta hiruk pikuk beach club atau tempat-tempat hingar bingar di Bali. Jadi tujuan saya biasanya blusukan ke air terjun yang belum banyak terjamah wisatawan. Asli loh, air terjun di Bali itu cantik-cantik dan aksesnya juga tidak terlalu sulit.

Nah, Liburan saya ke Bali kali ini agak berbeda, durasinya singkat saja. Jadi harus mencari alternatif wisata lain alih-alih harus eksplor air terjun yang pastinya akan memakan waktu lama

Entah sejak kapan, tapi seingat saya semenjak Pantai Pandawa menjadi hits, saya sering kali melihat 1 – 2 paragliding membumbung dari tebing-tebing yang memagari Pantai Pandawa. Batin saya waktu itu “sepertinya ini hanya untuk atlet atau orang-orang yang memiliki ijin khusus untuk mengudara”

Tapi siapa sangka tahun berselang, ternyata Paragliding tidak harus memiliki ijin khusus dan bisa dinikmati oleh masyarakat awan. Tapi tentunya harus terbang dengan mode tandem, ada ahli yang akan terbang bersama kita.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengisi waktu libur saya dengan mencoba Paragliding di Bali. Pengalaman pertama yang luar biasa menyenangkan.

Saya memilih RIUG Paragliding untuk menjadi operatornya. Letaknya di area Nusa Dua. Mudah untuk ditemukan dengan menggunakan Google Maps. Saat tiba, tak disangka ternyata banyak peminatnya, baik dari turis lokal maupun mancanegara.

Proses pendaftarannya mudah dan tidak bertele-tele, kamu tinggal beli tiketnya di website RIUG Paragliding langsung. Setiba di site lokasi, kamu tinggal registrasi ulang saja menunjukkan email pembelian. Lalu langsung diantarkan untuk masuk dalam antrian dan dipasangkan gelang dengan nomor urut, safety helmet dan dipinjamkan GoPro untuk dokumentasi. Asyik banget kan, bisa dapat footage bagus tanpa harus was-was pegang HP.

Saat nomor antrian saya tiba, tak ada intruksi apa-apa yang bikin was-was di awal. Kita hanya diminta untuk duduk se-rileks dan senyaman mungkin. Setelah alat terpasang sempurna dan parasut dikembangkan, kita hanya tinggal meluruskan kaki ke depan, staf tandem kita yang akan berlari ke bibir tebing untuk kemudian lepas landas.

Rasanya? Luar biasa, di detik awal memang sedikit kaget karena tiba-tiba melihat hempasan ombak jauh di bawah dengan kaki kita menggantung tanpa pijakan. Tapi hanya sebentar, selebihnya sungguh luar biasa. “Akhirnya bisa terbang”—durasi sekali terbang adalah 15 menit. Terdengar singkat? Coba saja dulu, begitu kamu mengudara, 15 menit terasa lama. Staf yang mengudara bersama kita juga sangat ramah. Untuk mengurangi rasa panik, staf biasanya akan mengajak kita mengobrol. Staf-staf bertugas di sini ternyata atlet paragliding. Jadi dijamin profesional dan aman. Kita akan diajak berkeliling sambil sesekali bermanuver kecil di udara yang bikin hati sedikit mencelos. Tapi asli, seru banget!

Saat akan mendarat, tugas kita juga hanya tinggal mengangkat kaki lurus ke depan, staf tandem kita yang akan menjejak ke tanah. Entah beruntung atau sial, karena angin kencang, saya gagal mendarat hingga 3 kali, akhirnya durasi saya mencapai 20 menit.

Setelah mendarat, kita bisa membawa GoPro ke bagian pemindahan data. Materi videonya akan dimasukan ke dalam HP kita.

Luar biasa, akhirnya satu pengalaman baru bisa di check list. Paragliding di Bali bersama RIUG Paragliding. Ohya, rate untuk sekali terbang juga tidak terlalu mahal loh. Untuk turis lokal sebesar Rp 900.000,- sementara turis asing Rp 1.000.000,-

Kalau kamu mau pengalaman baru di Bali, cobain paragliding, beli tiketnya di website mereka langsung RIUG Paragliding.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top