Tempat Wisata di Bandung: Bukit Moko vs. Bukit Keraton

48

Media sosial adalah sarana promosi terbaik dan terampuh untuk saat ini. Salah satu contoh nyata adalah Bukit Moko dan Bukit Keraton. Mungkin, dulu ke dua lokasi ini adalah tempat pesta para Jin, karena lokasinya yang jauh naik ke atas bukit. Tapi karena belakangan banyak yang memposting foto-foto di media sosial, kedua bukit ini mendadak menjadi terkenal, menjadi tempat wisata di Banudng yang menjad incaran pengunjung untuk sekedar selfie dan pamer “Im at Moko/Keraton”. Mungkin juga sebagai anak gaul, rasanya belum ditahbiskan jadi anak gaul kalau belum pernah selfie di 2 bukit ini.

Saya, tanpa bermaksud merebut gelar anak gaul dari remaja-remaja yang datang, hanya sekedar ingin memenuhi rasa penasaran saja, seberapa indahkah kedua bukit itu.

 

Bukit Moko

Bukit ini sudah lebih dikenal sebelumnya dibanding bukit Keraton, namun pamornya menyeruak setelah nama Bukit Keraton disebut sebagi bukit Instagram. Karena kemiripan lokasi mungkin Bukit Moko “menikmati” imbas dari Bukit Keraton yang mendadak tenar itu.

Kami mengunjungi bukit Moko saat menjelang malam. Keputusan yang salah memang. Pemandangan yang bisa kami abadikan hanya kerlip lampu kota Bandung yang bisa terlihat dari ketinggian Bukit Moko di 1500 mdpl. Memang indah, tapi jika kita bisa datang lebih awal, kita juga bisa mengabadikan barisan gunung yang melingkari Bandung ataupun menanti senja terbenam di balik Gunung.

Mengambil rute dari Jalan Padasuka (saung Mang Udjo) lurus sampai ketemu dengan Caringin Tilu. Jalurnya, semakin ke atas semakin menanjak sampai bertemu dengan belok arah kiri yang menanjak dengan penunjuk Warung Daweung. Untuk jalannya masih relatif aman dan rapi, hanya ada beberapa bagian saja yang agak rusak. Untuk kendaraan bermotor, disediakan lahan parkir di bagian bawah atau jika yakin, bisa langsung memarkirkan kendaraannya di halaman Warung Daweung.

Daweung yang artinya bengong ini memang disesuaikan dengan kondisi yang bisa membuat kita termenung memandangi alam dari atas bukit sambil menikmati makanan dari warung ini. Pengalaman saya saat memesan makanan di Warung Daweung saat weekend “janganlah berharap terlalu banyak” hampir 1 jam kami di atas bukit, makanan tidak kunjung datang sampai akhirnya kami pulang pun tidak ada yang memanggil kami. Dimaklumi karena saat itu kondisi Bukit Moko memang super ramai.

Sedikit saran dari saya, cobalah datang lebih awal untuk bisa mengabadikan pemandangan saat masih terang, saat matahari terbenam dan saat kota Bandung berkelap-kelip di malam hari. Untuk yang kurang kuat menahan dingin sebaiknya persiapkan jaket karena angin di Bukit Moko cukup kencang dan dingin.

Saat saya kesana, agak sedikit salah kostum dengan celana pendek dan kaos tipis. Cukuplah membuat saya mem”buang angin” sepanjang perjalanan balik ke kota Bandung :p. Jika memungkinkan hindari weekend saat ke Bukit Moko karena dapat dipastikan kondisinya sangat ramai. Terakhir pastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik, cukup bahan bakar, karena tidak ada pom bensin selama perjalanan menuju Bukit Moko. Hati-hati juga dengan beberapa ruas jalan yang tidak memiliki pembatas.

Baca juga: Berjibaku di Gunung Lembu demi melihat Waduk Jatiluhur

 

Bukit/Tebing Keraton

Terletak di Kampung Cihagerem Puncak, Desa Ciburial dengan ketinggian 1200 mdpl di kawasan Dago, tebing ini memang tidak setinggi Bukit Moko tetapi menawarkan pemandangan yang berbeda dengan Bukit Moko. Jika di Moko kita di sajikan dengan landscape kota Bandung plus kelap kelip lampu kota, di Tebing Keraton kita akan disuguhkan pemandangan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Juanda yang letaknya persis ada dibawah kita.

Menuju ke Tebing Keraton lebih sulit dibanding Bukit Moko. Jalanannya lebih sempit dengan kemiringan yang lebih dahsyat dibanding Moko. Yang pasti kendaraan roda empat tidak bisa digunakan (bisa diparkirkan di Tahura) sehingga harus menggunakan motor. Belum lagi 1/3 jalanan terakhir menuju Tebing Keraton hanya akses jalan berbatu. Mengambil rute ke arah Tahura, persis didepan Tahura ada pertigaan, ambil arah kanan. Dari sini jalanan akan terus menanjak sampai ketemu dengan Warung Bandrek, belok kiri (ada papan petunjuk disini) sampai ketemu lagi dengan belokan kiri yang agak curam. Dari sini tinggal lurus sampai ketemu dengan area parkir untuk Bukit Keraton.

Tebing Keraton awalnya dikenal sebagai Bukit Jontor karena letak batu yang mejorok ke depan seperti orang Jontor. Kenapa sekarang lebih dikenal dengan Tebing Keraton?? Versi mistisnya, karena menurut cerita penduduk dulu ada orang kesurupan di sini yang mengatakan nama lokasi ini harus diganti menjadi Tebing Keraton. Konon Bukit ini adalah “Keraton”nya mahluk halus. Versi indahnya Tebing Karaton dalam bahasa Sunda artinya adalah Kemegahan Alam.

Saya, yang lebih menyukai pemandangan alam yang hijau lebih memilih Tebing Keraton di banding Moko. Yang saya sayangkan, dengan tarif masuk yang cukup mahal (11.000 untuk lokal dan 76.000 untuk turis asing) fasilitas di sini sangat minim. Pagar pembatas hanya berupa bambu yang ditancap ke tanah lalu diikat dengan tambang kecil itupun jarak antar bambu cukup jauh. Jadi untuk pengunjung yang membawa anak-anak sangat diharapkan untuk berhati-hati. Saya sendiri baru tahu kalau saya cukup phobia dengan ketinggian, alhasil saya mengurungkan niat saya untuk selfie di atas “batu jontor”. Sepertinya batu sekecil itu akan protes jika diinjak mahluk sebesar saya.

Baca juga: Sasak Panyawangan, Jembatan perenungan berlatar Jatiluhur

***

Bukit Moko vs Tebing Keraton, keduanya menawarkan pemandangan yang indah asal kita bisa datang pada jam yang tepat dan kondisi cuaca yang baik. Tetap berhati-hati baik dalam berkendara atau saat di lokasi.

Hindari bercanda berlebihan, jangan sampai foto selfie-nya bukan terpampang di media sosial tapi malah terpampang di sudut orbituari hihi. Rasa penasaran saya sudah terbayarkan. Ingin kembali ke sana? Menurut pendapat pribadi saya, sepertinya banyak bukit-bukit dengan pemandangan indah serupa hanya saja belum terekspos media. Terakhir, gelar Anak Gaul tetap akan saya berikan pada remaja-remaja ber-tongsis yang seliweran di ke-dua bukit itu.

Baca juga: Rekomendasi tempat wisata di Bandung lain yang bisa kamu kunjungi

Jalan jalan Jeprat Jepret
Jalan jalan Jeprat Jepret
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
48 Responses
  1. sholicha

    sorry kak mau tanya
    "bukit moko" td diatas ambil rute dr jalan padasuka sampai naik keatas berapa jam ya kak . mohon rply
    weekend mau kesana mau tau estimasi ny aja ��.
    thanks

  2. Mau tanya dong. Kl pake mobil kan gak bisa tuh lanjutin jalan ke tebing keratonya dan harus parkir di tahura. Kita naik motor buat lanjutin perjalananya??? Ada ojek dong di sana? Brp biaya ojeknya? Tolong info dong. Thanks

    1. Mas Yogi utk ojek banyak tersedia disana, tinggal negosiasi harga maunya PP atau sekali jalan. Waktu itu teman saya sekali jalan harganya 15.000,-. Kalo pp Brati 2x nya atau mungkin bs ditawar lagi :). Semoga membantu

  3. Anonim

    Bukit mokonya keren, tapi hati-hati jangan terjebak oleh tukang parkir yang memeras anda. Jika dia meminta uang parkir mobil 20 ribu atau lebih, tolak saja dan bilang harga tsb tidak masuk akal. 10 ribu juga udah kemahalan

  4. Keren kang Ang Leonard,, ikut membantu sedikit ya,,Aq sedia jasa sewa motor metic yaa,, barangkali yg mw maen ke bandung via travel/kereta.. bisa antar jemput hotel/travel.. hub aja kesini 0858.6149.0578..thx u

  5. Hehe…jadi meski kunjungi 2-2nya aja ya? Kami belum pernah ke Bukit Moko nih, soalnya koq kayaknya jauh banget ke arah sana. Kapan2 mesti ke sana deh biar ga kalah sama anak2 gaul yang suka selpie pake tongsis 😉

  6. Mas mau nanya kalo jalan kaki ke tebing keraton dari parkiran mobil capek banget ga mas ? Trus tanjakannya curam ga mas? Butuh tips n trik menuju tebing keraton… soalnya aku mau ke sana sama temen2 ramean tapi bawa mobil

Leave a Reply