Pembantaian Masal Diterangi Cahaya Surga di Goa Jomblang

11

Lubang menganga berdiameter 50 meter menyambut saya begitu  tiba di kawasan Goa Jomblang, Gunung Kidul. Saya sendiri cukup kaget karena tidak menyangka lubangnya akan sebesar ini. Teriakan teman-teman membuat saya terkikik sendiri, “Leooo, gila ya ajak gw ke tempat begini”. “Leooo, tanggung jawab ya kalo gw kenapa-kenapa”.

Tapi saya melihat muka-muka penasaran “ada apa di bawah sana?” dibalik celotehan khawatir mereka.

Goa Jomblang-Luweng Grubug

 

Setelah menempuh hampir 2 jam
dari pusat kota Jogja menuju Gunung Kidul, tidak terlalu sulit untuk menemukan
Goa Jomblang karena cukup banyak papan petunjuk ditempatkan di setiap belokan.
Yang agak sulit mungkin untuk bermanuver di jalanan yang sempit dan sedikit
rusak. Kenapa tidak di aspal? Pengelola memang sengaja membiarkan kondisi alam
sekitar tetap alami, bukan hanya akses saja tapi banyak hal lain yang tetap di
biarkan “sederhana” tanpa tersentuh modernisasi.

 

Cahaya surga

 

Kami ber-6 adalah rombongan
pertama yang tiba di kantor Goa Jomblang. Ada baiknya sebelum berkunjung kita
melakukan pemesanan karena kuota pengunjung 1 harinya hanya dibatasi sekitar 20
sampai 25 orang. Mas Budi yang menyambut kami menjelaskan karena pengunjung
yang terlalu ramai dikhawatirkan dapat merusak kondisi alam di dalam goa. Hari
itu total pengunjung yang masuk adalah 11 orang, kami ber-6 bersama dengan 5
turis asing yang cukup beruntung masih mendapat kuota untuk turun ke Goa
Jomblang.
Luweng Grubug

 

Setelah menggunakan sepatu boot, harnes dan helm (perlengkapan wajib
turun Jomblang) kami siap di turunkan 60 meter ke dasar goa menggunakan teknik Single Rope Technic. Kita tinggal duduk
manis ( 1 kali turun 2 orang) dan berterimakasih-lah kepada bapak-bapak
berbadan besar yang menurunkan kita dengan cara manual. Pengelola sepakat tidak
menggunakan mesin karena tetap ingin mengkaryakan penduduk setempat dan
menghindari kerusakan mesin yang lebih sulit diatasi. Yang paling mendebarkan
mungkin saat pertama kali kita harus melepaskan tangan dari tiang dan berayun
ke tengah untuk diturunkan, karena saat itu nyawa kita sepenuhnya bergantung
pada kuatnya bapak-bapak dan seutas tali.
Turun menembus hutan purbakala
Pemandangan saat
menggantung-gantung di ketinggian cukup menarik karena kadang kita harus
melintas di antara ranting atau dahan pohon, karena lubang mengangga ini
tercipta dari amblasnya dataran di atas sehingga beberapa tumbuhan ikut amblas dan
tumbuh di dasar gua. Menurut Pak Gatot, pemandu yang ikut turun bersama kami,
tumbuhan di dasar gua ini adalah tumbuhan purba yang tidak dapat ditemukan di
mana pun dan tidak terdeteksi jenisnya karena berasal dari jutaan tahun silam. Mungkinkah
tiba-tiba ada T-rex muncul dari dalam gua?
2 orang sekali turun dengan standar keamanan internasional
60 meter menuju dasar goa
Setelah tiba di dasar Goa
Jomblang kami masih harus menyusur di dalam goa menuju Luweng Grubug. Selama
perjalanan, terhitung sekitar 3 atau 4 lampu disebar sepanjang 250 meter hanya
untuk penanda jalan, bukan sebagai penerangan (lagi-lagi supaya unsur alaminya
tetap terjaga). Hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk mendengar bunyi
gemuruh air dan melihat seberkas cahaya terang. Di depan saya terpampang pilar
cahaya yang masuk menembus dari Luweng Grubug. Rasanya sedikit tidak percaya di
kedalaman 90 meter di bawah tanah ada kubah seperti Katedral dengan cahaya yang
sangat indah. Suara gemuruh sungai bawah tanah terdengar jauh di bawah kami
menimbulkan gema yang memantul di dinding-dinding goa. Perhatikan juga saat ada
daun-daun yang jatuh dari mulut Luweng Grubug.
Pintu masuk Goa Jomblang
Trekking 250 meter menuju Luweng Grubug

Di sisi kanan terdapat 2 batu
yang tercipta dari tetesan air yang merembes dari dinding-dinding gua. Yang
satu berbentuk seperti jamur, yang satu lagi memilik tekstur seperti otak. Pak
Gatot berkali-kali mewanti-wanti kami untuk tidak berfoto di atas batu,
menginjak ataupun memukul batu tersebut. Menurut beliau, batuan dengan tekstur
unik ini tercipta ratusan tahun lalu dan untuk membuat satu motif garis sepanjang
1 cm saja butuh waktu sekitar 2 sampai 3 tahun. Kami melihat sendiri betapa
pedulinya Pak Gatot saat mendapati salah satu turis menginjak batu, beliau
spontan berteriak melarang, mendekati batu dan langsung membersihkan batu
dengan tangannya. Kembali beliau berpesan untuk menjaga alam agar tidak terjadi
kejadian yang tidak diinginkan.

Salah satu batu yang tercipta ratusan tahun lalu dari tetesan air
Pak Gatot di dalam perut bumi

 

Pak Gatot bercerita, dulu di
tahun 1983, Jomblang pernah sepenuhnya terendam air karena luapan aliran sungai
bawah tanah dan tingginya curah hujan. Tahun 2013, kejadian tersebut terulang
karena aliran sungai yang tersumbat sampah, walaupun tidak separah tahun ’83,
luapan di tahun 2013 sampai menutupi kedua batu kesayangan pak Gatot dengan
lumpur. Selain itu Pak Gatot juga sempat bercerita khusus kepada saya setelah sedikit
berbisik saya bertanya tentang kelamnya cerita Jomblang jaman dahulu. Dulu,
tepat di tempat kita menatap indahnya cahaya surga di Luweng Grubug adalah
tempat eksekusi pemberontak G30-S/PKI. Mereka dieksekusi dengan cara di dorong
ke aliran sungai bawah tanah di bawah yang nanti mayatnya jika masih utuh akan
muncul di pantai Baron Gunung Kidul. Eksekusi jenis ini masih dilaksanakan
hingga tahun 1982 untuk menghilangkan nyawa pelaku kriminal kelas kakap.
Kabarnya mantan napi AM dan JI merupakan nama-nama yang tadinya sempat akan
dieksekusi di sini. (Silahkan cari sendiri insial diatas tapi jangan cari di
daftar mucikari RA)
Pernah dijadikan sebagai tempat melamar
Juga sebagai lahan pembantaian pemberontak G30-S/PKI
Aliran sungai bawah tanah
Saran dari saya bagi yang ingin
ke Jomblang, ada baiknya memperhatikan cuaca karena buat apa turun ke bawah
saat cuaca mendung dan tidak bisa menyaksikan “cahaya surga” di
Luweng Grubug. Waktu kunjungan Jomblang hanya dari pukul 10.00-13.00 WIB dengan
kuota 25 orang sekali kunjungan, disarankan untuk memesan tempat terlebih
dahulu. Yang terakhir jangan sarapan terlalu banyak sebelum turun ke Jomblang,
bukan karena mual saat menggantung di ketinggian, tapi pikirkan betapa susahnya
bapak-bapak di atas saat harus menahan beban orang yang sedang kekenyangan.
90 meter dibawah permukaan tanah

 

Jomblang yang awalnya menakutkan
untuk teman-teman saya, pada akhirnya mereka mengakui bahwa pengalaman pertama
dan mungkin sekali seumur hidup mereka menggantung di ketinggian 60 meter
terbayarkan dengan indahnya pemandangan di dalam Luweng Grubug. Rasa takut,
cemas, semua hilang begitu disuguhkan pilar cahaya berselimut kabut uap air
yang naik dari aliran sungai bawah tanah. Begitu tiba di atas mereka berceloteh
tentang indahnya goa dan kekaguman mereka. Spontan saya timpali “tau gak kalo tempat tadi kita berdiri
itu adalah tempat membunuh ormas-ormas G30-S/PKI”
Lalu disambut dengan
teriakan satu suara “Leooo, lu
ngapain ajak gw ke tempat pembunuhan masssaaaal??”
 

Jalan-Jalan Jeprat-Jepret

 

Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi
Pak Cahyo Alkantana : +62 811 117 010 (Selaku pemilik lahan Goa Jomblang)
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
11 Responses

Leave a Reply