Sebagai contoh, belum lama ini
saya menulis tentang salah satu lokasi wisata religi di Malaysia, Batu Caves.
Siapa yang tidak terkagum-kagum akan patung Lord Murugan berlapis emas setinggi
43 meter. Siapa yang tidak terperangah ketika memasuki perut bukit batu kapur
yang hampir menyerupai katedral. Semua bisa terekam dengan baik dalam foto.
Apakah foto tidak jujur? Karena saya menghindari proses editing berlebih, buat saya
foto masih berkata jujur. Sisi lain Batu Caves yang dipenuhi sampah memang tidak tampak pada foto-foto saya. Aroma pesing menyengat apalagi, tidak mungkin saya wujudkan dalam bentuk foto. Namun dengan penjelasan mendetail tentang kondisi
sesungguhnya yang tidak dapat dan tidak ingin saya abadikan, saya paparkan dalam
bentuk tulisan saya.
saya menulis tentang salah satu lokasi wisata religi di Malaysia, Batu Caves.
Siapa yang tidak terkagum-kagum akan patung Lord Murugan berlapis emas setinggi
43 meter. Siapa yang tidak terperangah ketika memasuki perut bukit batu kapur
yang hampir menyerupai katedral. Semua bisa terekam dengan baik dalam foto.
Apakah foto tidak jujur? Karena saya menghindari proses editing berlebih, buat saya
foto masih berkata jujur. Sisi lain Batu Caves yang dipenuhi sampah memang tidak tampak pada foto-foto saya. Aroma pesing menyengat apalagi, tidak mungkin saya wujudkan dalam bentuk foto. Namun dengan penjelasan mendetail tentang kondisi
sesungguhnya yang tidak dapat dan tidak ingin saya abadikan, saya paparkan dalam
bentuk tulisan saya.
Sekali lagi, artikel “Project
Mercury” di Qubicle ini mengingatkan saya akan beberapa hal, paling tidak inilah pendapat pribadi saya. Fotografi
tidak akan berdusta, ya…mereka jujur sejujur-jujurnya. Fotograferlah yang
memanipulasi hasil fotonya, terlebih dengan editing yang merubah esensi foto.
Fotografi itu subjektif, ya…tergantung penikmat foto itu sendiri. Mungkin
saya belum berani mengabadikan realita pada foto saya, ibarat pelukis saya adalah
pengikut Raden Saleh dengan aliran romantismenya. Namun saya berusaha jujur
pada tulisan saya yang mendukung foto-foto saya. Terima kasih Qubicle untuk
menghadirkan artikel pendek namun berbobot.
Mercury” di Qubicle ini mengingatkan saya akan beberapa hal, paling tidak inilah pendapat pribadi saya. Fotografi
tidak akan berdusta, ya…mereka jujur sejujur-jujurnya. Fotograferlah yang
memanipulasi hasil fotonya, terlebih dengan editing yang merubah esensi foto.
Fotografi itu subjektif, ya…tergantung penikmat foto itu sendiri. Mungkin
saya belum berani mengabadikan realita pada foto saya, ibarat pelukis saya adalah
pengikut Raden Saleh dengan aliran romantismenya. Namun saya berusaha jujur
pada tulisan saya yang mendukung foto-foto saya. Terima kasih Qubicle untuk
menghadirkan artikel pendek namun berbobot.
Ingat!!! Fotografi itu jujur, oknum
yang menambahkan paus di atas awanlah yang membuat fotografi menjadi tidak
jujur.
yang menambahkan paus di atas awanlah yang membuat fotografi menjadi tidak
jujur.
| Atrikel Project Mercury di www.qubicle.id |
Facebook : Qubicle
Twitter : @Qubicle_id
Instagram : @Qubicle_id
Youtube : https://www.youtube.com/channel/UCXyUiI8vNTrFRzOk77jid7g
6 thoughts on “Jangan Hakimi Fotografi”
Waaduuuh… jadi tersinggung ni saya. Saya biasanya hanya mengedit kecerahan gambar aja untuk blog. Not more.
edit mencerahkan warna kan tidak merubah esensi foto mas hehe. Di lomba foto juga masih diperbolehkan koq
Sentilan kecil tapi sangat dalam untuk mengajak berperilaku lebih jujur dalam menampilkan hasil fotografi *tapitanpaeditanberasamasihpolos
Edit brightness, contrast, saturation masih diperbolehkan dalam taraf wajar dan tidak merubah esensi foto π
Ah menarik tulisannya, Om. Istilah 'The Man behind camera' rupanya bukan hanya soal bagaimana mengambil foto dengan baik, melainkan jug pasca pemotretan, bagaimana ia memperlakukan foto tersebut.
Btw, saya tergelitik dengan pernyataan terakhir! Hehehe π
Terima kasih sudah mampir mas, ini cuma opini pribadi ya heheh
berminat ikutan nambahin ikan cupang mas??