7 Kebiasaan Unik Penumpang Pesawat

Kamu mau naik pesawat dandanannya begitu amat?

Dandanan dalam arti cara berpakaian saya yang dikritik oleh orang tua, terutama ibu saya. Bagi ibu saya, bepergian dengan pesawat ya harus rapi. Zaman dulu bahkan orang bepergian dengan moda pesawat menggunakan jas, tutur ibu saya. Mungkin pergeseran dari moda transportasi mahal menjadi “everybody can fly” yang membuat gaya busana menjadi lebih “santai”.

Saya memang kerap kali bepergian menggunakan celana pendek dan sendal, terkecuali jika saya pergi dalam konteks bekerja, pastinya saya menggunakan busana yang lebih formal. Malah kini kadang saya merasa heran jika ada orang bepergian dengan pesawat layaknya Ratu Elizabeth tapi salah ambil penerbangan. Berjaket tebal dengan bulu-bulu, berkacamata hitam dengan segala macam emas bertengger di lengannya. Percayalah bukan Syahrini yang saya lihat, namun salah seorang penumpang dari penerbangan low cost airlines. Menjadi misteri bagi saya, apakah ia akan mengenakan sepanjang penerbangan? Apakah ia akan dehidrasi dengan pakaian setebal itu?

Berbicara masalah misteri, saya memiliki beberapa pertanyaan yang hingga kini tak bisa saya temukan jawabnya terkait dengan keunikan tingkah polah penumpang pesawat, umumnya penumpang di low cost airlines.
1. Koper
Saya suka merasa heran dengan penumpang yang suka membawa semua barang bawaannya ke kabin pesawat. Sebegitu tidak percayakah mereka terhadap penanganan bagasi pesawat? Jika barang yang dibawa hanya 1 koper cabin sized atau 1 ransel, mungkin tak ada masalah. Namun akan jadi masalah kalau yang di bawa, 1 koper obesitas, kantong kresek yang isinya entah apa, kadang ditambah paper bag dengan brand oleh-oleh plus 1 kardus bertuliskan nama sang pemilik yang bersanding (lagi) dengan brand oleh-oleh. Saya sering kali tak dapat tempat meletakkan ransel karena kompartemen di atas saya sudah penuh dan berantakan bak mini market baru buka.
Taking this with me
2. Antri
“Penumpang pesawat bla bla bla, dipersilakan untuk naik pesawat”
Saya jamin, belum selesai pengumuman ini, pasti sudah ada manusia yang tergopoh-gopoh menuju ke pintu yang dimaksud. Lalu disusul dengan manusia kompetitif lainnya. Jalur antrian yang layaknya hanya 1 atau 2 baris, bisa beranak pinak menjadi 4 baris. Tidak sampai di situ, kadang terjadi dulu mendahului dengan cara bahu siapa di depan bahu siapa. Kenapa tidak bisa antri dengan tenang di jalur yang ada? Toh sama-sama masuk ke pesawat yang sama. Toh sudah punya nomor kursi masing-masing. Lalu apa yang dikejar manusia-manusia kompetitif ini?
Move Bitch!!!
3.Feeder Bus
Beberapa maskapai low cost airlines kadang mengharuskan penumpang untuk menggunakan feeder bus sebelum naik ke pesawat. Kembali terjadi sebuah misteri karena jarang sekali ada penumpang yang mau duduk di dalam bus. semua bergerombol di bagian tengah bus. Apakah ego manusia ini merasa gengsi harus duduk di bus sementara sudah terlanjut update status sedang berada di bandar udara?
Come closer
4. Nomor Kursi
Memang tak setiap kali, namun sering kali saya mendapati penumpang yang duduk seenaknya. Apa sih susahnya duduk sesuai dengan nomor yang tertera. Jika memang ingin mendapat kursi sesuai keinginan, kan bisa menggunakan online check in. Pilih bangku di jendela atau di lorong, atau di tengah supaya hangat. Kadang yang bikin sedikit kesal, ada saja orang yang menjawab, “duduk disini atau disitu kan sama aja” Situ naik pesawat atau naik kereta juga sama aja, sama-sama nyampe koq

 

My Precious

 

5. Handphone

Momen pertama yang saya nantikan saat akan lepas landas adalah saat penumpang ditegur untuk mematikan HPnya. Dan hampir di semua penerbangan saya menemukan kejadian ini. Jika alasannya mau memberi kabar, tak bisakah dilakukan saat baru masuk pesawat? atau mungkin saat sedang antri masuk pesawat? Kenapa harus menunggu saat pesawat mau lepas landas? Pun terjadi saat pesawat baru mendarat dan roda masih berdecit, ada saja nada dering yang masuk. Padahal jelas-jelas sudah diberitakan untuk tidak menyalakan HP hingga berada di dalam bandara. Dan saya yakin betul, saat pertama kali membuka HP, bukan ingin memberikan kabar kepada keluarga terdekat, tapi update status…”touch down” “landing on” ya..kannnn??

NO Phone Father Mucker!!
6. Toilet

Begitu lampu tanda sabuk pengaman dimatikan, ada saja penumpang yang serta merta membuka sabuk pengaman dan melenggang ke toilet. Ini mungkin kejengahan pribadi saya saja, karena dalam penerbangan 2-3 jam, saya hampir tidak pernah membuang air di dalam pesawat. Semua saya tuntaskan sebelum naik pesawat. Daripada mengejar peringkat satu sebagai penumpang yang masuk paling pertama ke dalam pesawat, lebih baik saya ke toilet kosongkan tangki. Akan menganggu penumpang di kursi terluar tentunya saat penumpang yang duduk di kursi tengah atau kursi jendela ketika harus menggunakan toliet. Jangan-jangan tipe penumpang seperti ini merasa harus menandai teritori dengan pipis? Atau merasa full experience flight hingga wajib menjajal penggunaan toilet pesawat?

Sharing is caring
7. Landing 
Pesawat berhenti, garbarata atau tangga belum terpasang, penumpang sudah heboh berdiri dan menurunkan barang bawaannya. Apa faedahnya? Ngak ada….
Yang ada malah membuat pesawat semakin sesak dengan kehadiran barang-barang bawaan dari kompartemen atas ke dalam kabin penumpang. Selasar pesawat hanya berukuran selebar bahu orang. Jadi tak akan mungkin bisa menyelak antrian jika penumpang di bagian depan sedang sibuk menurunkan barang bawaan. Apa salahnya duduk, antri hingga dekat gilirannya, baru menurunkan barang bawaan. Jika manusia-manusia kompetitif ini naik ke pesawat paling awal, mungkin mereka merasa wajib mempertahankan gelar juara pertamanya sebagai penumpang yang pertama keluar dari pesawat.
Get me OOOUUTTT
Catatan C4ME :
1. Jika ada yang bisa menjawab dengan alasan yang masuk akal, mohon bantu saya dengan memberikan jawaban di kolom komentar.
2. Mohon maaf jika ada yang tersinggung dengan tulisan absurd ini. Tak ada maksud apapun hanya ingin berbagi pengalaman selama bepergian menggunakan pesawat.
3. Tulisan ini dibuat dalam rangka….iseng aja.
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
26 Responses
  1. Dari tulisan ini, saya menyimpulkan. masyarakat kita belum terbiasa disiplin (baik disiplin waktu, antri, disiplin sabar dll).
    Mari kita mulai budaya disiplin dimulai dari diri sendiri dan orang sekitar).

  2. Saya lebih suka duduk di feeder bus. Apa enaknya berdiri berdesakan di tengah. Mungkin mereka ingin bisa lebih cepat turun dan bertemu keluarga yg sudah seabad tiada bersua.

    Saya juga males ke toilet saat terbang. Bukankah lebih indah pemandangan di balik jendela daripada dinding toilet pesawat. Mungkin mereka ingin merasakan sensasi bongkar isi tangki di udara.

  3. Setuju bgt sama nomor 4. Pernah kejadian nmr kursi aku didekat jendela terus ada lah emba emba dudukin tempat aku disitu. Pas ak tegor eeehhh doii lebih nyolot dong ngmongnya. Beeeuuhhh karena gak terima dengan bacococoteee tuh emba emba. Aku bilang aja "emba bisa liat tiketnya? Bisa baca gak? Kalo bisa baca tolong pindah sekarang juga karena saya tidak mau tukar tempat!!!". Seenake dewek nempatin kursi orang trs doi lbh nyolot. Belom tau aja eike nyolotnya bisa melebihi mak lampiiirrrr *matakeluar*

  4. Bahahahaha sesungguhnya ini bukan kebiasaan unik di penerbangan sih, sudah jamak kita temui dihampir setiap penerbangan.

    Duh ini komenku kenapa gini banget yak bahasanya, kurang binal, kurang berfaedah gitu

  5. Hampir semuanya masih bisa aku tangani dengan sabar, koh. Yang paling mengganggu adalah koper.
    Sis, tan, bu, kalo situ bawaannya koper segede rumah, kenapa nggak beli bagasi aja? Ah, alasan bilang nggak aman. Itu bisa disiasati dengan memilah barang bawaan. Yang di koper untuk bagasi diisi baju-baju dan barang-barang kurang berharga aja. Bilang aja situ nggak punya duit, pelit, hahahaha. Toh kalo nanti ada masalah dengan bagasi, bisa ajukan klaim ke pihak maskapai.

    Btw aku sendiri nggak berpakaian sesantai itu, koh. Meski atasannya kaos, tapi aku selalu pake celana panjang dan sepatu.

    1. Iya solusinya, pakaian aja yang dimasukan ke bagasi, barang berharga dibawa. Kan sudah mengurangi keribetan tenteng2 koper toh.

      Sy sih seringnya celana pendek dan sendal. Kecuali dlm kondisi badan yang kurang sehat baru celana panjang hehe

  6. temanku yang jadi pramugari di GI pernah ngebahas juga tentang kebiasaan buruk penumpang pesawat. selain yang udah disebutkan di atas ada juga nih tipe penumpang OKB yang norak

    Pelanggan maskapai full service biasanya kelas menengah ke atas. Banyak dari mereka yang memang udah dari orok hidup dalam kemewahan, namun tak sedikit pula di antaranya adalah para social climber yang (sayangnya) banyak yang norak. Para Orang Kaya Baru (OKB) ini akan sangat terlihat jelas ketika berada di pesawat full service: suka memerintah, barang bawaan segudang, dan tak tahu aturan penerbangan. Pernah OKB yang duduk di exit row seat (jendela darurat) dan marah-marah ketika pramugari memintanya memindahkan tas jinjing yang ia taruh di depan kursi. Ia bersikeras untuk tidak memindahkan barang bawaannya tsb ke kompartemen. Padahal peraturan penerbangan mewajibkan daerah di seputar exit row harus klir dari obstacle (halangan) apapun. Malunya lagi, ia malah didamprat oleh penumpang lain karena merasa terganggu dan bilang begini: “Ibu ya dari tadi saya dengar berisik terus. Menyalah-nyalahkan pramugari! Ibu yang gak tahu aturan!”. Dan dia hanya bisa diam, menahan malu.

  7. Mengenai dandanan, aku paling ala kadarnya, bukan nya sombong, yang pernah bareng aku ke eropa pun kaget karena aku bertahan dengan celana pendek dan sandal sualo, alasan nya karena benar benar kenyamanan, betapa gerahnya aku kalau harus pake celana panjang di dalam pesawat, kedua kalau pake sandal bias aku lepas kapan saja.

    Karena pengelaman bagasi pernah nyasar dan jarak bandara ke tempat tujuan masih 3 jam, sejak itu kalau memang bias aku naikkan semua barangku ke pesawat pasti akan aku bawa, termasuk lemari pakaian, belum lagi kadang bandara di sini makin besar bandara makin lama bagasi keluar hehehe….

    masalah kencing, aku membiasakan pas masuk pesawat sebelum duduk aku akan meminta ijin ke toilet dulu, supaya nantinya selama perjalanan tak perlu jadi perawgawan yang melenggang di Korong pesawat.

    kalau untuk masalah tempat duduk, aku malas berdebat dan langsung tanpa banyak bicara memberikan boarding pass aku ke pramugari dan membiarkan ybs menyelesaikan dengan secara manusia hehe, kalau mau tukar tempat duduk palingan dalam hati aku bilang bias saja, silakan pindah di samping pinggiran pesawat alias di luar

    kira kira begithu, kalau untuk yang lain nya, aku masih normal normal aja hehe

  8. Sebenernya ini tidak terjadi di pesawat saja. Sering sekali menjumpai permasalahan2 diatas seperti duduk tidak sesuai dengan no kursi dengan alasan berbagai hal, saling ingin lebih dulu dll. Mungkin harus kembali kediri kita masing masing untuk memulai lebih disiplin dan keselamatan bukan untuk diri kita sendiri tapi untuk orang sekitar. Harus sesuai prosedur dan aturan yang ada.

  9. Sepakat Kak
    Selain semua point di atas, aku juga paling kesel kalo ada orang yang habis check in, trolleynya digeletakin gitu aja, ga dibalikin lagi le tempat semula
    Khan jadi gangguin orang yang ngantri di belakangnya
    Hih..

  10. Ini nggak unik Kak. Ini kebiasaan menggangguuuu..

    1. Mungkin dia ada penerbangan tambahan, senjang waktu hanya 2jam, beda maskapai dan beda bandara, jadi mau nggak mau koper harus dibawa ke kabin.

    2. Mungkin dia bawa koper jadi antri untuk memastikan dia bs dapat kompartemen untuk naruh kopernya. Kalau masih koper sebiji aku masih paham, yang gak paham itu koper satu, tas jinjing gede satu, belanjaan duty free satu plastik, dan kardus satu. Ebuseh jatah 4 orang diambil semua.

Leave a Reply