Syahdu Di Danau Tamblingan

10

Pagi itu gerimis entah dari mana datangnya. Padahal kemarin-kemarin panas di Bali seakan memiliki 2 matahari. Sedihlah saya, ditambah rute perjalanan saya hari ini menuju ke dataran tinggi. Memang saya sudah mempersiapkan diri untuk “kecewa” karena sering kali bermain ke dataran tinggi selalu mendapati langit kelabu berjelaga hingga menghitam lalu menghilang #euphoria AADC2. Tapi hujan yang
menyambut di pintu hotel membuat persiapan “kecewa” saya porak poranda sejak awal.

Menempuh perjalanan selama 2 jam dari pusat kota Denpasar menuju Desa Munduk, Buleleng. Tujuan saya adalah Danau Tamblingan. 1 dari 3 danau yang terbentuk dari Kaldera besar. Danau Beratan yang paling terkenal dengan Pura Ulun Danu, Danau Bunyan dan terakhir Danau Tamblingan. Konon katanya dulu Danau Bunyan dan Tamblingan adalah 1 bagian danau sebelum terjadi longsor di abad ke 19 yang menyebabkan 2 danau ini terpisah oleh hutan seluas 1 KM.

Bunyan dan Tamblingan yang terpisah oleh hutan

Danau Tamblingan sendiri berasal
dari bahasa Bali “Tamba” yang artinya obat dan “Elingang”
yang artinya kemampuan spiritual. Dahulu di sekitar danau ada desa yang menjaga
kesucian danau dan Pura di sekelilingnya, hingga suatu saat merebak wabah ulah
Umbrella Corp sehingga warga desa berubah menjadi zombie
di desa tersebut
lalu 1 orang yang disucikan turun ke danau dengan kemampuan spiritual dan
doanya, air danau menjadi obat untuk menyembuhkan warga di desa tersebut. Jadilah danau
tersebut di sebut sebagai Danau Tamblingan.
 

Barisan perahu kayu di Tamblingan
Suasana yang tenang dan sejuk

Terletak di ketinggian 1000 meter
di atas permukaan laut udara di sini sangat sejuk. Gerimis yang menemani saya
sejak berangkat sudah beranjak pergi meninggalkan langit mendung. Nyatanya
langit mendung tidak membuat keindahan Tamblingan memudar. Bahkan aura tenang,
semilir angin dingin dan awan kelabu yang menggelayut membuat Tamblingan seakan
mencegah saya untuk tidak buru-buru beranjak. Pemandangan perahu dayung yang
membawa wisatawan berkeliling danau seluas 1,9 Km di kejauhan benar-benar
membuat pikiran tenang. Di danau ini memang tidak diperbolehkan menggunakan
perahu motor, jadi Danau Tamblingan benar-benar terjaga tidak tercemar oleh
limbah bahan bakar atau oli dari perahu. Pemandangan beberapa penduduk lokal yang
memancing ikan dengan cara sangat tradisional dengan memukul-mukulkan sebilah
bambu ke permukaan air untuk memancing ikan naik ke permukaan danau sedalam 90
meter ini juga menambah keunikan sendiri saat berkunjung ke Tamblingan. Suara
air danau yang ditabuh memercik kembali jatuh ke danau menciptakan alunan musik
alam yang saya rasa jauh lebih indah dibanding musik apapun.
 

Memancing dengan cara tradisional
Perahu dayung agar tidak terjadi pencemaran

Fasilitas di Danau Tamblingan
cukup memadai dengan adanya toilet umum dan area lapang untuk mendirikan tenda,
menurut warga setempat tidak dipungut biaya tapi ada baiknya lapor dulu saat
memasuki gerbang Danau Tamblingan. Untuk aktivtas, selain bisa menyewa perahu
kayu untuk berkeliling (+/- Rp 100.000,-) di sini juga tersedia rute Trekking sepanjang 2 Km atau 8 Km, yang
pasti harus ditemani pemandu dan yang pasti saya mohon maaf karena lupa
menanyakan berapa tarif trekiing-nya
:p. 
 

Panorama danau Tamblingan

Sering dijadikan lokasi prewedding
Buat saya, Danau Tamblingan
dengan keheningannya benar-benar memukau, tak peduli dengan mendung yang
menggelayut malah menurut saya menambah kesan syahdu dengan hadirnya awan
kelabu. Kalau beruntung dan mau luangkan waktu sedikit lebih awal, mungkin bisa
mendapati sang matahari beranjak keluar dari tidurnya. Agak siang sedikit
mungkin kita harus berbagi lokasi dengan fotografer-fotografer prewedding dan calon pengantin yang
tiba-tiba muncul di segala sisi.
 

Pura di sisi Tamblingan
Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Tamblingan
Dalam perjalanan pulang jangan lupa untuk mampir di salah satu tempat untuk berfoto dengan latar pemandangan danau Tamblingan dan Bunyan sekaligus. Walaupun hanya berupa platform beton yang dibuat sedikit menjorok ke depan, lokasi ini cukup ramai disinggahi wisatawan jadi jangan sampai ber-narsis ria terlalu lama, bergantian-lah dengan pengunjung lain. Waktu saya di sana ada beberapa anak muda saya berasa tua dari negara tetangga yang entah sudah berapa lama di sana karena antrian panjang sekali di belakang mereka. Tahu cara menghentikan kegiatan narsis mereka tanpa harus keluar tenaga? Duduk saja disampingnya saat mereka sedang berfoto niscaya mereka akan segera meninggalkan lokasi tersebut :p (untungnya saya tidak didorong dari atas platform oleh mereka T_T)
Jalan-Jalan Jeprat-Jepret
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
10 Responses

Leave a Reply