Syahdu di Danau Tamblingan

Pagi itu gerimis entah dari mana datangnya. Padahal kemarin-kemarin panas di Bali seakan memiliki 2 matahari. Sedihlah saya, ditambah rute perjalanan saya hari ini menuju ke dataran tinggi.

Memang saya sudah mempersiapkan diri untuk “kecewa” karena sering kali bermain ke dataran tinggi selalu mendapati langit kelabu berjelaga hingga menghitam lalu menghilang.

Tapi hujan yang menyambut di pintu hotel membuat persiapan “kecewa” saya porak poranda sejak awal.

Menempuh perjalanan selama 2 jam dari pusat kota Denpasar menuju Desa Munduk, Buleleng. Tujuan saya adalah Danau Tamblingan, satu dari tiga danau yang terbentuk dari Kaldera besar. Danau Beratan yang paling terkenal dengan Pura Ulun Danu, Danau Bunyan dan terakhir Danau Tamblingan.

Konon katanya dulu Danau Bunyan dan Tamblingan adalah 1 bagian danau sebelum terjadi longsor di abad ke 19 yang menyebabkan 2 danau ini terpisah oleh hutan seluas 1 KM.

Danau Bunyan dan Danau Tamblingan
Danau Bunyan dan Tamblingan yang terpisah oleh hutan

Baca juga: Brahmavihara Arama, Miniatur Candi Borobudur di Bali

Danau Tamblingan sendiri berasal dari bahasa Bali “Tamba” yang artinya obat dan “Elingang” yang artinya kemampuan spiritual.

Dahulu di sekitar danau ada desa yang menjaga kesucian danau dan Pura di sekelilingnya, hingga suatu saat merebak wabah ulah Umbrella Corp sehingga warga desa berubah menjadi zombie di desa tersebut lalu 1 orang yang disucikan turun ke danau dengan kemampuan spiritual dan doanya, air danau menjadi obat untuk menyembuhkan warga di desa tersebut.

Jadilah danau tersebut di sebut sebagai Danau Tamblingan.

Barisan perahu kayu di Danau Tamblingan
Barisan perahu kayu di Danau Tamblingan
Suasana di Danau Tamblingan
Suasana yang tenang dan sejuk di Danau Tamblingan

Terletak di ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut udara di sini sangat sejuk. Gerimis yang menemani saya sejak berangkat sudah beranjak pergi meninggalkan langit mendung. Nyatanya langit mendung tidak membuat keindahan Tamblingan memudar. Bahkan aura tenang, semilir angin dingin dan awan kelabu yang menggelayut membuat Tamblingan seakan mencegah saya untuk tidak buru-buru beranjak.

Perahu kayu tanpa mesin di Danau Tamblingan
Perahu dayung agar tidak terjadi pencemaran

Pemandangan perahu dayung yang membawa wisatawan berkeliling danau seluas 1,9 Km di kejauhan benar-benar membuat pikiran tenang. Di danau ini memang tidak diperbolehkan menggunakan perahu motor, jadi Danau Tamblingan benar-benar terjaga tidak tercemar oleh limbah bahan bakar atau oli dari perahu.

Memancing di Danau Tamblingan
Memancing dengan cara tradisional

Pemandangan beberapa penduduk lokal yang memancing ikan dengan cara sangat tradisional dengan memukul-mukulkan sebilah bambu ke permukaan air untuk memancing ikan naik ke permukaan danau sedalam 90 meter ini juga menambah keunikan sendiri saat berkunjung ke Tamblingan.

Suara air danau yang ditabuh memercik kembali jatuh ke danau menciptakan alunan musik alam yang saya rasa jauh lebih indah dibanding musik apapun.

Fasilitas di Danau Tamblingan terbilang cukup memadai dengan adanya toilet umum dan area lapang untuk mendirikan tenda, menurut warga setempat tidak dipungut biaya tapi ada baiknya lapor dulu saat memasuki gerbang Danau Tamblingan.

Untuk aktivitas, selain bisa menyewa perahu kayu untuk berkeliling (+/- Rp 100.000,-) di sini juga tersedia rute trekking sepanjang 2 Km atau 8 Km, yang pasti harus ditemani pemandu dan yang pasti (lagi) saya mohon maaf karena lupa menanyakan berapa tarif trekking-nya :p.

Panorama Danau Tamblingan
Panorama Danau Tamblingan

Baca juga: Air Terjun Sekumpul, Lemukih, Gerombong? Apalah Arti Sebuah nama

Buat saya, Danau Tamblingan dengan keheningannya benar-benar memukau, tak peduli dengan mendung yang menggelayut, malah menurut saya menambah kesan syahdu dengan hadirnya awan kelabu.

Kalau beruntung dan mau luangkan waktu sedikit lebih awal, mungkin bisa mendapati sang matahari beranjak keluar dari tidurnya.

Agak siang sedikit mungkin kita harus berbagi lokasi dengan fotografer-fotografer prewedding dan calon pengantin yang tiba-tiba muncul di segala sisi.

Lokasi Prewedding di Danau Tamblingan
Danau Tamblingan sering dijadikan lokasi prewedding
Pura di sisi Danau Tamblingan
Pura di sisi Danau Tamblingan
Danau Tamblingan dari atas
Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Tamblingan

Dalam perjalanan pulang jangan lupa untuk mampir di salah satu tempat untuk berfoto dengan latar pemandangan danau Tamblingan dan danau Bunyan sekaligus. Walaupun hanya berupa platform beton yang dibuat sedikit menjorok ke depan, lokasi ini cukup ramai disinggahi wisatawan jadi jangan sampai ber-narsis ria terlalu lama, bergantian-lah dengan pengunjung lain.

Waktu saya di sana ada beberapa anak muda saya berasa tua dari negara tetangga yang entah sudah berapa lama di sana karena antrian panjang sekali di belakang mereka. Tahu cara menghentikan kegiatan narsis mereka tanpa harus keluar tenaga? Duduk saja disampingnya saat mereka sedang berfoto niscaya mereka akan segera meninggalkan lokasi tersebut :p (untungnya saya tidak didorong dari atas platform oleh mereka T_T)

Jalan jalan Jeprat jepret di Danau Tamblingan
Jalan jalan Jeprat jepret di Danau Tamblingan
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
10 Responses

Leave a Reply