Air Terjun Campuhan Gitgit, 1 Lokasi 4 Air Terjun

Berbeda dengan Bali selatan yang di dominasi oleh pantai, Bali utara memiliki destinasi wisata alam yang lebih beragam. Salah satu destinasi yang menjadi primadona di Bali utara adalah air terjun. Yang paling terkenal saat ini adalah air terjun Gitgit. Namun tak banyak yang tau kalau di kawasan air terjun Gitgit ini terdapat banyak air terjun yang bisa dikunjungi. Air terjun Campuhan masih berada dalam satu aliran sungai dengan Gitgit, bahkan beberapa tour guide menyebut air terjun Campuhan sebagai air terjun Gitgit, maka tak heran jika di googling “Gitgit”, air terjun Campuhan akan ikut nampak di hasil pencarian mbah yang satu ini.

Masih di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Singaraja, air terjun Campuhan terletak tak jauh dari Gitgit. Sekitar 15 menit berkendara, akan ditemui area parkir Campuhan plus anak tangga menurun dengan papan bertuliskan “Air Terjun Gitgit Campuhan”. Dari papan petunjuk ini, masih harus menempuh 500 meter berjalan kaki. Secara infrastruktur, air terjun Campuhan masih kalah dibanding Gitgit. Sedikit mengecewakan, di Campuhan tidak ada loket yang benar dengan informasi harga tiket masuk yang tercantum jelas. Yang ada hanya bangunan semacam pos jaga yang di isi oleh ibu-ibu (sepertinya warga lokal) yang sedang mengobrol, begitu kami melintas beberapa orang bapak-bapak seperti memberikan kode kedip-kedip mata genit kepada ibu-ibu tersebut untuk meminta tiket masuk seharga Rp 10.000,-/orang (lebih mahal dari Gitgit) saat saya meminta karcis masuknya yang saya dapatkan malah mata melotot dari bapak-bapak, sebagai pendatang saya mengalah saja. Selain itu anak-anak penjual souvenir yang sedikit memaksa, terus menempel sambil menawarkan harga dari 10.000,- 1 item, terus menurun hingga 10.000,- 5 item. Saat saya bilang “tidak ada uang” muka memelas mereka berubah menjadi muka galak sambil berteriak “Peliiiit” sambil ngeloyor pergi. Ingin teriak “Biarinnnnn” tapi takut di datangi oleh bapak-bapak di pos jaga T_T

Menuju air terjun kembar Campuhan

 

30 menit berjalan, kami bertemu dengan
persimpangan, untuk menuju ke Campuhan berbeloklah ke kiri. Air terjun Campuhan
yang berarti “campur” ini letaknya agak tersembunyi dibalik tebing,
jadi untuk meyaksikan Campuhan memang harus dari dekat. Campuhan atau yang
artinya campur merupakan aliran air terjun yang berasal dari 2 aliran sungai
yang bercampur membentuk air terjun kembar. Dengan ketinggian 20 dan 10 meter serta
dikelilingi tebing, Campuhan memiliki aura yang lebih mistis dibanding Gitgit.
Sedikit gelap dengan bias-bias cahaya yang menerobos di antara pohon yang tumbuh
di sisi tebing. Untuk bermain air, di Campuhan relatif lebih aman karena kolam
yang tidak terlalu dalam dan tidak banyak dipenuhi batu-batu besar.
Air terjun kembar Campuhan
Di kelilingi bukit penuh pepohonan

 

Saat kembali ke persimpangan
jalan (ini bukan pertanda galau), kami mengambil rute kanan dengan jalan
sedikit menanjak, dipenuhi pohon bambu yang lingkar bambunya hampir sebesar
paha saya dan ranjau kotoran ayam yang bertebaran dimana-mana. Untungnya tak
lama kami melintas di ladang ranjau eeq
ayam ini, air terjun ke-3 dari aliran sungai yang sama dengan Gitgit sudah
nampak di depan kami. Air terjun Mekalongan, dengan debit air yang lebih deras
dan ketinggian kurang lebih 40 meter . Sepertinya jika dilihat dari kolam
di bawahnya, Mekalongan tidak dapat digunakan untuk bermandi-mandi. Saya hanya
bisa memandang Mekalongan dari atas, entah mungkin ada akses lain untuk
menikmati Mekalongan dari bawah.
Aliran air dari Gitgit dan Campuhan

 

Rangkaian air terjun Gitgit
berakhir di air terjun bertingkat, saya tidak sempat mendatangi air terjun
terakhir ini karena menurut penduduk setempat, air terjun bertingkat tidak
semegah 3 air terjun di atas, intinya air terjun ini adalah penghabisan dari
aliran ketiga air terjun Gitgit, Campuhan dan Mekalongan.
Air terjun Mekalongan

 

Saat di Bali selatan merasa “kenyang”
dengan suguhan pantai, di Bali utara, dalam satu lokasi saja kita bisa
menemukan 4 air terjun dengan karakteristik berbeda-beda. Jadi jangan ragu
untuk menyambangi Bali utara dan menyegarkan mata dan tubuh dengan sejuknya
aliran sungai dan hembusan udara dingin
di dataran tinggi Bali.
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
6 Responses

Leave a Reply