Sepenggal Kisah Bosscha di Malabar Bandung

Bagai permadani di kaki langit, gunung menjulang berpayung awan.

Sepenggal lirik lagu anak ini persis seperti apa yang kami lihat begitu memasuki Perkebunan Teh Malabar. Hamparan perkebunan teh membentang sejauh pandang, berlatar barisan bukit hijau yang dipayungi awan kelabu. Harum tanah basah menyergap saat kami mematikan mesin pendingin dan membuka kaca lebar-lebar. Damai dan sunyi siang itu saat kami menyusur liku aspal di antara hijau daun teh. 10 menit sejak meninggalkan gerbang utama Perkebunan Teh Malabar, rumah bergaya khas Belanda menyambut di sisi kanan jalan. Rumah peninggalan sang Meneer, Karel Albert Rudolf Bosscha.

Menjemput pagi di Malabar
Rumah Bosscha di Malabar
Sejuk bergulir berganti hangat
saat memasuki kediaman Bosscha. Langit-langit yang rendah mampu menimbulkan
suasana hangat. Terlebih saat memandang gambar diri Meneer Bosscha, pria gemuk berkumis dengan senyum simpul, tidak ada
kesan seram, hanya kehangatan seorang tuan rumah yang menyapa tamu yang
berkunjung. Hampir seluruh isi rumah Bosscha ini adalah asli peninggalan dari
beliau. Piano besar yang masih berfungsi hingga furniture di beberapa sudut
ruang. Hanya kamar Bosscha saja yang sempat mendapatkan renovasi cukup banyak
karena rusak saat terjadi gempa di Pangalengan.
Jendela-jendela besar yang memberikan kehangatan saat mentari menyapa
Hangat saat masuk ke rumah Bosscha
Meja kerja di kamar Bosscha
Halaman kediaman Bosscha yang
cukup luas kini difungsikan untuk penginapan. Ada yang berupa kamar ataupun
villa kayu yang mampu menampung hingga 8 orang dewasa. Udara dingin khas
pegunungan, bukit-bukit hijau akan menjadi teman saat bermalam di sini. Belum
lagi kabut yang menyapa setiap menjelang senja dan saat mentari pagi masih
meringkuk di balik bukit hijau. Jika beruntung, langit bertabur bintanglah yang menjadi teman saat terlelap di malam yang cerah
Berselimut kabut tipis
Villa kayu

 

Bosscha bukan hanya sekadar
teropong bintang, Bosscha terlanjur identik dengan Lembang padahal di sini, di
antara kebun teh, berselimut udara pegunungan, 50 Km dari pusat kota Bandung,
Malabar-Pangalengan, banyak kisah tentang Bosscha yang terukir di sini.
Perkebunan Teh Malabar

 

129 tahun silam saat Meneer Bosscha, sang Juragan,
menginjakkan kaki di tanah Hindia Belanda. 22 tahun usia Juragan saat itu.
Beliau bekerja membantu pamannya di wilayah Sukabumi sebelum akhirnya hijrah ke
Bumi Priangan tahun 1896. Di Malabar-Pangalengan, Juragan mendirikan perkebunan
teh Malabar hingga mencapai luas 2.000 hektar. 2 pabrik teh juga didirikan yang
masih berfungsi hingga sekarang. Juragan bukan seorang Londo kebanyakan saat masa penjajahan. Juragan memiliki tempat
khusus di hati masyarakat saat itu. Beliau memajukan perekonomian warga lokal
dengan mempekerjakan mereka di pabrik teh milik Juragan. Dengan sifat
dermawannya, Juragan mendirikan rumah-rumah untuk para pekerja, bahkan sekolah
pun didirikan agar para pekerja tak buta aksara. Sekolah yang awalnya bernama Vervolog Malabar berjarak tak jauh dari
kediaman beliau sampai saat ini masih beraktivitas dengan nama Sekolah Dasar
Malabar.
Sisi rumah Bosscha

 

Bukan hanya masyarakat Malabar
yang merasakan jasa dari sang Juragan, kini seluruh masyarkat Indonesia layaknya
berterima kasih kepada Juragan. Technische
Hoogeschool te Bandoeng
– sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda yang kini
dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah salah satu peninggalan
dari Juragan Bosscha. Dan yang paling terkenal adalah peninggalan beliau di
Lembang, Observatorium Bosscha. Beliau bukan seorang astronom, tapi beliau
adalah penyandang dana terbesar yang membeli Teleskop Refraktor Bamberg dan
Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, teleskop tertua dan terbesar yang ada di dalam
Observatorium Bosscha yang kini menjadi landmark di Bandung Utara.

 

Observatorium Bosscha. Sumber https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/7f/Bosscha_001.JPG  

 

 

November 1928 mungkin tahun
berkabung bagi seluruh masyarakat Malabar. Sang Juragan meninggal di pangkuan
salah satu pekerjanya. Beliau meninggal karena penyakit tetanus yang terinfeksi
saat Juragan terjatuh dari kuda di Bukit Nini, bukit di belakang rumah Juragan.
Sesuai permintaan terakhir beliau, sang Juragan dimakamkan di tengah Perkebunan
Teh Malabar. Hutan kecil menaungi rumah abadi sang Juragan. Warga Malabar,
terutama para pekerja di Rumah Bosscha, penginapan dan pengurus makam, percaya
jika Juragan Bosscha kadang terlihat di beberapa lokasi. Bermain piano di
rumah, mengawasi produksi di pabrik teh, atau sekadar bersantai membaca koran
sambil menyeruput teh di samping pusaranya sendiri.
Tempat peristirahatan terakhir Bosscha

 

Jasanya, kearifannya, sifat
dermawannya hingga kini masih dikenang dengan baik oleh warga Malabar, terlebih
untuk beberapa pribadi yang sempat mengenal Bosscha secara tidak langsung.
Salah satunya penjaga makam Bosscha yang merupakan putra dari pekerja pabrik
saat Bosscha masih menjabat sebagai petinggi di pabriknya.
Bernaung di bawah rindang hutan kecil

 

“Meneer masih ada di antara kita, hanya jarak yang memisahkan.
Beliau mengangkasa tinggi bersama planet dan selaksa bintang di atas sana.
KarelBosscha, planetoid dengan nama Meneer untuk selalu melukiskan kenangan
indah tentang beliau”
Karel Albert Rudolf Bosscha, Sang Meneer, Juragan teh berhati mulia
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.

Leave a Reply