Menyapa Keluarga Tusam di Hutan Pinus Gunung Pancar

12

Saya hanya terpana saat memasuki wilayah tempat tinggal keluarga Tusam. Mungkin ada ratusan bahkan ribuan anggota keluarga Tusam yang menetap di wilayah seluas 450-an hektar di Gunung Pancar.

Tegak bergeming keluarga Tusam menyambut makhluk-makhluk kerdil yang datang silih berganti. Belum lagi saat akhir pekan nanti, rasanya jumlah anggota keluarga Tusam akan kalah angka dengan makhluk kerdil yang mungkin segelintir saja yang benar-benar peduli dan ingin berkenalan dengan keluarga Tusam. Sisanya? sibuk menjadikan keluarga Tusam sebagai pelengkap di barisan belakang saat berfoto. Jika iya keluarga Tusam tak mampu lagi bergeming, mungkin sumpah serapah yang keluar. Mengutuk makhluk-makhluk kerdil yang seenaknya berlari kesana kemari tanpa ada itikad baik berkenalan lebih dahulu dengan keluarga Tusam.

Baca juga: Saat Mongol dan Indian bertetangga di Highland Park

Di sebuah batu besar saya menyapa salah satu anggota keluarga Tusam.

Spot Menarik di Hutan Pinus Gunung Pancar
Menyapa keluarga Tusam

“Haiii kawan, selamat datang di rumahku”

Saya tak dapat melihat ekspresi wajahnya. Seringai, seutas senyum atau apa yang disunggingkannya, saya hanya dapat mendebak dari intonasi suaranya yang bersahabat. Kelak ku panggil dirinya dengan sebutan Pak Tusam. Cerita demi cerita mengalir dari dirinya. Beliau sepertinya sangat antusias karena kini tak banyak yang mengajaknya bertukar kata.

Hutan Pinus Gunung Pancar tumbuh hingga 70 meter
Hutan Pinus Gunung Pancar tumbuh hingga 70 meter

Beliau pun tak pernah tahu sejak kapan pendahulunya menetap di Gunung Pancar, namun jelas dalam ingatannya ketika tempat tinggalnya diberikan kepada Perhutani pada tahun 1976 sebagai tempat pelestarian alam. Baru pada tahun 1988, Pak Tusam dan keluarga harus berbagi “rumah” dengan makhluk kerdil karena rumahnya beralih fungsi menjadi tempat wisata alam. Tak ada masalah, toh pundi-pundi berharga yang dikeluarkan makhluk kerdil akan kembali untuk merawat rumah keluarga Tusam, begitu pikir Pak Tusam.

Hutan pinus rawan terbakar
Hutan pinus rawan terbakar

Ceritanya beralih tentang dirinya kini. Sedikit sombong di nada suaranya. Beliau berujar jika keluarganya, keluarga Tusam adalah asli dari Indonesia. Pak Tusam mengaku memiliki tinggi sekitar 40 meter, ia mengaku cukup langsing dengan diameter tubuh sebesar 100 cm. Pak Tusam bercerita bahwa di luar sana, di tempat yang tak terjamah mahluk kerdil, kerabatnya bisa mencapai ketinggian 70 meter dengan tubuh berdiameter 170 cm. Beliau boleh berbangga karena keluarga Tusam ternyata berjasa banyak untuk mahluk-mahluk kerdil. Keluarga Tusam kerap merelakan dirinya untuk diolah menjadi bahan-bahan konstruksi seperti lantai, triplek ataupun langit-langit rumah. Furnitur pun kadang merupakan hasil olahan dari keluarga Tusam. Getahnya jika diolah lebih lanjut bisa menjadi bahan dasar pembuatan parfum, kosmetik, obat-obatan bahkan cat.

Track menantang di Hutan Pinus Gunung Pancar untuk penggemar olahraga extreme
Track menantang di Hutan Pinus Gunung Pancar untuk penggemar olahraga extreme

Keluarga Tusam bukan keluarga yang pelik. Kami dapat tinggal di kondisi tanah apapun, bahkan yang kurang subur sekalipun. Namun, kami sangat rapuh saat musim kemarau. Tubuh kami sangat mudah terbakar. Ini terjadi karena keluarga Tusam memiliki serasah yang cukup banyak dan tidak mudah terurai. Belum lagi saat makhluk-makhluk kerdil dengan sesuka hatinya membuang rokok yang masih membara. Kami tak dapat berbuat banyak, hanya mampu menatap bara menjilati kami perlahan. Ujungnya, makhluk kerdil hanya bisa saling melempar dosa tanpa peduli kami yang kehilangan anggota keluarga.

Kafe kecil di tengah hutan pinus gunung pancar
Kafe kecil di tengah hutan pinus gunung pancar

Di ujung ceritanya Pak Tusam berujar, kami tak pernah pamrih, kami tak pernah marah jika makhluk kerdil berlarian mengacak-acak seisi rumah kami. Kami hanya minta, kita saling menjaga. Hai kalian makhluk kerdil yang menikmati hasil olahan kami, jagalah kami agar kami habis saat bermanfaat, bukan habis saat bara menjilat.

Berjibaku di Gunung Lembu demi melihat Waduk Jatiluhur

Berkenalan dengan Hutan Pinus Gunung Pancar
Jangan lupa berkenalan dengan Keluarga Tusam

Sesaat sebelum beranjak dari batu tempat saya termangu mendengar celoteh Pak Tusam,

“Terima kasih atas kata yang kau rangkai, Pak Tusam. Maafkan kami, makhluk kerdil yang kurang menghargai jasa keluarga Tusam, keluarga pohon pinus.

Jalan jalan jeprat jepret di Hutan Pinus Gunung Pancar
Jalan jalan jeprat jepret di Hutan Pinus Gunung Pancar

Catatan C4ME:

  1. Gunung Pancar terletak di kawasan Sentul. Keluar tol Sentul Selatan lalu menuju arah Jungleland. Persis sebelum masuk Jungleland ada jalan menanjak. Tinggal ikuti jalan hingga tiba di gerbang Gunung Pancar.
  2. Selain tiket masuk, di area Gunung Pancar harus membayar parkir setiap kali kita berpindah parkiran.
  3. Di area ini juga ada pemandian air panas. Untuk masuk harus bayar tiket mobil dan pengunjung. Saya pribadi kurang menyarankan untuk berkunjung ke sini.
  4. Di area Gunung Pancar banyak terdapat warung-warung dan satu cafe yang sangat nyaman.
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
12 Responses
  1. Semoga Pak Tusam dan keluarganya hidup aman sejahtera. Semoga juga tak ada lagi makhluk kerdil yang mengganggu mereka. Semua bisa bersahabat dalam harmoni yang indah.

    Sudah puitis belum? Hahaha

Leave a Reply