Itinerary Liburan Di Jogja 4 Hari 3 Malam (ala Militer)

Yang pernah pergi traveling sama saya, pasti tahu itinerary saya seperti apa, padat merayap ala militer! Seperti saat liburan di Jogja, bukan tidak mau rugi, tapi jarang-jarang saya bisa cuti dalam jangka waktu yang panjang, jadi lebih baik memaksimalkan waktu yang ada untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Jogja.

Jadi kembali ke kamu kalau ingin mengikuti itinerary ala militer ini.

 

Itinerary Liburan di Jogja 4D3N

***

Day 1. Pantai-pantai di Gunung Kidul

Mungkin dahulu orang hanya mengenal Parangtritis jika menyebut wisata pantai di Jogja. Coba arahkan rute perjalanan ke arah selatan Jogja ke wilayah Gunung Kidul. Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dari pusat Kota Yogyakarta kita bisa menemukan puluhan pantai yang menarik untuk dikunjungi dengan karakteristiknya masing-masing. Serunya, pantai di sini secara letak berada dalam satu garis lurus. Jadi jika tidak terpisah tebing, kita bisa berjalan kaki dari satu pantai ke pantai lain.

  1. Pantai Wediombo

    Pantai Wediombo adalah pantai pertama yang saya kunjungi. Wediombo memiliki arti hamparan pasir yang luas. Dulu pantai ini termasuk pantai sepi tapi sekarang sepertinya sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan.

    Untuk sampai ke pesisir kita harus menuruni tangga yang cukup curam. Pesisir Pantai Wediombo didominasi oleh hamparan karang. Saat surut, kita bisa menjadikan karang-karang ini sebagai pijakan untuk berjalan ke arah tengah.

  2. Pantai Siung

    Jaraknya hanya 30 menit dari Wediombo. Pantai ini sudah sangat komersil dengan area parkir tepat di seberang bibir pantai. Bisa dibilang pantai ini lebih untuk wisata keluarga. Daya tarik pantai ini adalah tebing yang bisa digunakan untuk olahraga wall climbing. Katanya, salah satu minuman energi pernah menjadikan spot ini sebagai tempat shooting iklan mereka.

  3. Pantai Indrayanti

    Pantai ketiga yang kami kunjungi adalah Pantai Indrayanti. Sepengetahuan saya, pantai ini adalah satu-satunya pantai yang memiliki rumah makan skala besar dibanding pantai lainnya (yang lebih menyerupai warung) Mungkin sedikit mirip dengan Jimbaran, Bali. Lengkap dengan gazebo yang tersebar di area pantai dan alunan musik gamelan.

    Untuk menu, cukup variatif dengan menu seafood. Harganya, sedikit mahal walaupun masih mengikuti “kantong Jakarta”. Sekadar saran, jika mau makan siang, sebaiknya tiba dilokasi lebih awal karena saat saya makan di sini, butuh waktu satu jam hingga pesanan kami disajikan.

  4. Pantai Kukup

    Pantai terakhir yang kami kunjungi adalah Kukup. Masyarakat lokal dan wisatawan sering menyebutnya sebagai Tanah Lot Gunung Kidul. Keberadaan karang ditengah laut dan gazebo yang menyerupai pura lah yang membuat Krakal terlihat serupa dengan Tanah Lot. Cukup banyak spot foto di sini. Bagi penggemar landscape fotografi, pasti jatuh cinta dengan Kukup

Selain pantai-pantai di atas, Gunung Kidul masih punya Nglambor, Jogan, Krakal, Ngobaran dan masih banyak pantai yang tak habis dikunjungi hanya dalam satu hari. Tetapkan saja wilayah pantai mana yang mau dikunjungi. Karena beberapa pantai ada yang dalam 1 kompleks dengan satu tiket masuk. Sementara jika ingin ke pantai lain yang diluar kompleks, biasanya kita akan menemui loket lainnya.

***

Day 2. Kaliurang, Merapi dan Wisata Kota Jogja

Setelah berpanas-panasan di wilayah pantai, liburan di Jogja hari kedua saya memilih area sejuk ke arah Kaliurang dan Merapi. Saran saya, bagi yang ingin ke kaki Merapi datanglah pagi-pagi karena biasanya menjelang pukul 10 pagi, Sang Merapi sudah mulai tertutup awan.

Tujuan awal pastinya Kinahrejo. Desa tertinggi yang ada di kaki Merapi. Disini juga terdapat bekas rumah Mbah Maridjan lengkap dengan kerangka mobil APV dan 2 sepeda motor milik wartawan TV One yang hangus diterjang awan panas (wedhus gembel).

Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Merapi seperti Lava Tour menggunakan motor trail atau jeep. Kita akan diajak berkeliling ke lokasi-lokasi yang diberangus oleh aliran lahar. Bunker bawah tanah juga bisa kita kunjungi hingga ke Kali Adem tempat lahar dingin mengalir.

Museum Ullen Sentalu

Turun dari Merapi, siapkan waktu sedikit banyak untuk mengunjungi salah satu museum terbaik (menurut saya) di wilayah Kali Urang, Ullen Sentalu.

Ullen Sentalu sendiri adalah singkatan dari “Ulating Blencong Sejatine Tataraning Lumaku” yang artinya kurang lebih ‘Nyala Lampu Blencong sebagai Petunjuk Manusia dalam Melangkah Meniti Kehidupan’ Blencong sendiri adalah lampu yang dipake untuk pertunjukan wayang.

Harga tiket masuknya Rp 50.000,-, cukup tinggi namun menurut saya sebanding dengan apa yang didapat. Sayangnya, hampir di semua lokasi museum tidak diperkenankan untuk mengambil gambar. Isinya sendiri sangat menarik dengan banyak bercerita tentang sejarah terpecahnya Keraton, cerita tentang keluarga kerajaan, filosofi batik hingga tarian yang menghadirkan Ratu Kidul. Di sini juga diluruskan tentang sosok Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul. 2 Sosok berbeda, Ratu Kidul adalah penguasa Pantai Selatan sementara Nyi Roro Kidul adalah abdi dalem sang Ratu bersama dengan Nyi Blorong.

Di penghujung tur, kami disuguhkan ramuan awet muda racikan asli dari Gusti Nurul, putri dari Mangkunegara VII yang terkenal dengan kecantikannya. Bahkan mantan presiden Ir Soekarno sempat berniat meminang Gusti Nurul yang ditolak karena beliau tidak mau dimadu. Gusti Nurul menutup usia di tahun 2015 saat berusia 94 tahun.

Baca cerita selengkapnya: Museum Ullen Sentalu

Saat ini di Kaliurang sudah banyak wisata baru seperti kebun bunga Matahari, The World Landmark, Lost World Castle, Bukit Klangon dan sebagainya.

Taman Sari

Selepas Kaliurang, saya kembali ke pusat kota dan menuju Taman Sari. Masih satu kompleks dengan Keraton karena Taman Sari adalah tempat peristirahatan Raja dan keluarganya. Ada 2 cerita beredar tentang Taman Sari, yang pertama adalah benar tempat peristirahatan dan pemandian untuk raja, permaisuri dan anak-anaknya. Sementara versi kedua adalah tempat raja dan selir-selirnya mandi. Terkadang pengunjung lebih tertarik dengan cerita berbumbu sex sehingga tak jarang pemandu pun lebih bersemangat bercerita dengan bumbu-bumbu sex.

Saya baru tahu kalau di Jogja ternyata banyak memiliki area peristirahatan berupa kolam pemandian untuk raja. Yang sedang naik daun saat ini adalah Situs Warungboto. Bentuknya hampir mirip Taman Sari tapi tak terlalu luas.

Yang menarik dari Taman Sari adalah keberadaan masjid bawah tanahnya yang bernama Sumur Gumuling. Kita harus melintasi lorong-lorong gelap yang hanya diterangi oleh cahaya matahari yang masuk dari langit-langit untuk menuju ke pusat Sumur Gumuling. Pusatnya berupa bangunan melingkar 2 lantai yang konon dulu difungsikan sebagai area berwudhu. Di lantai 2 diperuntukkan para pria sementara di lantai 1 untuk para wanita.

 

Makam Raja-raja Mataram Kuno Kotagede

Selanjutnya perjalanan saya lanjutkan menuju Kotagede, tak jauh dari pusat Kota Jogja. Tujuan utamanya adalah menuju makam raja-raja yang letaknya berada di belakang Masjid Kotagede, masjid tertua di Jogja. Di sini dimakamkan pendiri Kerajaan Mataram, Panembahan Senopati. Untuk masuk ke area makam, saya diharuskan mengenakan pakaian ala abdi dalem dan wajib ditemani oleh juru kunci.

Pintu pertama dibuka, area makam yang berada di luar ruang seperti pada umumnya. Makam-makam ini adalah makam dari pengawal, prajurit atau siapapun yang mengabdi tapi tidak ada dalam hubungan darah dengan keluarga raja. Juru kunci mengajak saya memasuki satu rumah kecil. Beliau sempat membaca doa sebelum membuka gembok.

Begitu pintu dibuka, entah kenapa saya merasa ada angin dingin berhembus dari dalam rumah. Kondisinya hampir gelap total berisikan beberapa makam yang salah satu di antaranya adalah makam Panembahan Senopati. Hanya ada seberkas cahaya dari arah pintu yang menyinari isi ruangan. Saya hanya bisa melihat beberapa makam tertutup kain putih dan mencium aroma kembang. Sudah cukup saya tutup hari itu dengan segera beranjak dari area makam.

***

Day 3. Keliling Candi di Jogja

Tak lengkap kalau ke liburan di Jogja tak mengunjungi candi. Umumnya adalah Prambanan dan Borobudur (walaupun Borobudur ada di Magelang), padahal Jogja punya banyak candi lainnya yang menarik.

  1. Candi Plaosan

    Pertama adalah Candi Plaosan. Kompleks Candi Buddha ini dibangun pada abad ke 9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Letaknya sekitar 1 kilometer dari Candi Prambanan. Candi ini jarang dikunjungi pengunjung karena kalah pamor dari Candi Prambanan.

    Candi Plaosan
    Candi Plaosan
  2. Candi Prambanan

    Selanjutnya menuju ke Komplek Prambanan. Sekian puluh tahun saya baru tahu kalau ada banyak candi di dalam Komplek Prambanan. Komplek ini adalah komplek Candi Hindu. Ikon dari candi Prambanan yang paling terkenal adalah Loro Jonggrang, Putri yang dikutuk oleh Bandung Bondowoso jadi patung karena telah menipu Bandung Bondowoso untuk membangun 1000 candi dalam 1 malam.

    Candi Prambanan
    Candi Prambanan
  3. Candi Sewu

    Ada banyak candi lain, baik yang sudah di restorasi maupun yang masih dalam keadaan puing-puing. Salah satu yang sudah pulih adalah Candi Sewu. Anehnya Candi Sewu adalah Candi Buddha, bukan Hindu seperti Prambanan. Candi Sewu pun memiliki usia yang lebih tua dibanding Prambanan atau Borobudur. Sewu juga dikenal sebagai candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur.

    Candi Sewu
    Candi Sewu
  4. Candi Ratu Boko

    Selesai dari komplek Prambanan, saya menuju Ratu Boko. bangunn ini memang paling tepat diabadikan menjelang sore dengan latar matahari terbenam. Ikon Ratu Boko sendiri tidak terlalu besar malah lebih menyerupai gapura. Ratu Boko dipercaya bukan candi tapi dilihat dari sisa-sisa reruntuhan dan peletakkan bangunan yang lebih menyerupai keraton (istana raja). Di dalam komplek seluas 25 hektar ini terdapat gapura, kolam pemandian, pendopo, tempat tinggal hingga tembok pembatas.

    Ratu Boko
    Ratu Boko

Menjelang malam, saya mencoba bersantap di Bale Raos. Letaknya persis di belakang Keraton. Bale Raos menyajikan menu-menu kegemaran para Sultan. Di buku menunya pun tertulis jenis makanan dan Sultan mana yang menggemari jenis makanan tersebut. Untuk menunya kita bisa memesan ala carte atau memesan paket makan ala Sultan. Pihak restoran akan menata menu dan menjamu tamu selayaknya saat sedang melayani Sultan.

***

Day 4. Mari pulang jangan lupa belanja (BESOK KERJA)

Sambil menunggu jadwal kepulangan, saya masih sempat sarapan pagi di Pasar Beringharjo. Sarapan pecel lengkap dengan uget-uget. Positifnya, sayuran yang digunakan di dalam pecel adalah sayuran segar tanpa pestisida. Di seberang Beringharjo ada Mirota Batik yang kini sudah berubah nama menjadi Hamzah Batik. Pusat oleh-oleh yang menjual pakaian hingga pernak-pernik rumah tangga.

Jadi kira-kira begitulah itinerary saya selama liburan di Jogja selama 4 hari. Bangun pagi, pulang malam, mengejar waktu untuk check list itinerary. Liburan ala militer tapi puas karena semua lokasi yang direncanakan bisa disambangi. Paling-paling, pulang panggil jasa pijat.

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
2 Responses
  1. Wahh Jogja! Kota ini rasanya nyaman banget, udah kayak rumah kedua. Dari dulu pengin banget mampir ke Museum Ullen Sentalu, tapi gagal terus. Kalau ada kesempatan main ke Jogja lagi, destinasi-destinasi di ataa boleh nih masuk wishlist ?

Leave a Reply