Liburan di Teluk Jakarta bersama De Kartini

Kira-kira di Jakarta itu wisatanya apa sih?

Saya sering kali ditodong dengan pertanyaan seperti itu ketika ada kerabat atau teman-teman dari luar Jakarta bahkan luar negeri yang bermaksud mengunjungi Jakarta. Yang meluncur dari mulut saya paling-paling Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini, Kota Tua, Monumen Nasional, itu-itu saja dan bahkan menurut saya sendiri tempat-tempat yang saya sebutkan tidak mengalami banyak perkembangan sehingga bagi yang sudah sering berkunjung ke ibukota cenderung bosan dengan tujuan yang itu-itu saja.

Wisata baru di Jakarta
Wisata baru di Jakarta

Baru-baru ini, warga Jakarta, termasuk saya sepertinya bisa bersorak gembira dengan ‘atraksi’ wisata yang baru saja diluncurkan oleh Trizara Group yang tentunya sudah terkenal dengan Trizara Resort, Glamour Camping di Lembang, Bandung. Wisata bahari yang umumnya dinikmati di Indonesia Timur, kini bisa dinikmati hanya selemparan batu dari pusat kota Jakarta. Ya…Trizara meluncurkan bukan hanya 1 tapi 3 Kapal Pinisi sekaligus untuk digunakan sebagai cruise ship yang mengellingi perairan Teluk Jakarta. Dan saya berkesempatan menjajal salah satu Kapal Pinisi dari Trizara, berlayar dan singgah di salah satu gugusan Kepulauan Seribu.

Mengarungi Teluk Jakarta
Mengarungi Teluk Jakarta
Didatangkan dan dibuat langsung di Sulawesi
Didatangkan dan dibuat langsung di Sulawesi

Pagi sekitar pukul 6 saya sudah tiba di Baywalk Pluit. 3 Kapal ini memang bersandar di area Baywalk Pluit. Melihat kapal-kapal megah ini mengapung anggun seketika mengubah wajah Teluk Jakarta menjadi mewah. Lepas kangen singkat dengan beberapa teman blogger, kami dipersilakan menuju dermaga dan menaiki taksi air. Moda transportasi ini yang akan mengantarkan kami ke Kapal Pinisi De Kartini.

Libur seru ala sosialita
Libur seru ala sosialita

Belum juga kami naik ke Kapal Pinisi, dari jarak beberapa meter sudah terdengar musik berdentum. Awak kapal De Kartini sudah berbaris siap menyambut kami…ahhh berasa special banget pagi itu… Semua menyapa ramah sambil mengarahkan jalan. Mata saya sempat melirik meja panjang yang sudah dipenuhi makanan dan minuman hangat *maaf sering gagal fokus kalau berurusan dengan perut. Kami diarahkan ke area semacam hall di lantai 2. De Kartini sendiri memiliki 3 lantai. Terbayangkan besarnya seperti apa? Dengan panjang mencapai 38 meter, dijamin tidak akan mati gaya di Pinisi ini.

Di lantai 2 yang bernama ruang Jepara mampu menampung hingga 70 orang. Ruangan ini dilengkapi dengan meja memanjang dan kursi, 2 toilet serta 1 ruangan VIP bernama 214 yang bisa menampung hingga 20 orang dan 1 toilet. Di lantai 1 terdapat ruang Kebaya yang bisa menampung 60 orang. Di lantai ini juga terdapat mushala serta beberapa toilet lainnya. Total ada 9 toilet yang sangat nyaman dan bersih. Di lantai 3 adalah deck semacam outdoor lounge yang dilengkapi dengan 30 bean bag. Surga banget menikmati hembusan angin laut di deck yang memiliki view 360 derajat. Dengan bentuknya yang besar, gelombang ombak hampir tidak terasa jadi tak perlu khawatir mabuk laut di De Kartini. Apalagi menjelang sore sambil menikmati matahari terbenam. Jamin, rasanya seperti sedang Live On Board di Pulau Komodo.

Ruang Jepara
Ruang Jepara
Sangat nyaman
Sangat nyaman
Deck dengan view 360 derajat
Deck dengan view 360 derajat

Mr Kunal selaku founder dari Trizara Group sempat berbagi cerita tentang 3 kapal Pinisi yang dibuat dan didatangkan langsung dari Sulawesi. De Kartini, De Sartika dan Samakamu. De Kartini dan De Sartika adalah kapal untuk one day trip yang bisa disewa untuk keperluan meeting, gathering, party seperti ulang tahun atau pernikahan, bahkan arisan. Sementara Samakamu saat ini sedang dipersiapkan untuk bisa mengelilingi perairan Indonesia yang dilengkapi dengan kamar atau ruang tidur. Penamaannya sendiri terinspirasi dari pahlawan-pahlawan wanita, RA Kartini dan Dewi Sartika. Tak heran De Kartini sangat mencerminkan RA Kartini dengan langit-langit ruangan yang dilapisi batik. Nama ruangan 214 yang diambil dari tanggal lahir RA Kartini. Ruangan Jepara dan Kebaya pun tak kalah kental menggambarkan sosok Kartini.

Langit langit berlapis batik
Langit langit berlapis batik

Saat ini titik singgah De Kartini adalah Pulau Pari. Kami harus menggunakan speedboat yang juga sudah disiapkan oleh Trizara untuk bisa sampai di Pulau Pari. Tujuan utama di Pulau Pari adalah Pasir Perawan di area belakang pulau. Sudah disediakan beberapa kendaraan bermotor semacam ‘angkot’ untuk mengantarkan kami. Pasir Perawan memiliki pasir yang bersih. Setahu saya, area ini adalah bagian reklamasi yang bertujuan memberikan area pantai berpasir untuk wisatawan yang berkunjung karena bagian depan Pulau Pari tidak memiliki pesisir pantai. Kami dipersilakan untuk menikmati pasir putih selama kurang lebih 2 jam sebelum mengarungi Teluk Jakarta kembali ke penatnya ibukota.

Keberadaan Pinisi De Kartini, De Sartika dan Samakamu pastinya menambah daftar wisata di Kota Jakarta. De Kartini saat ini memang baru bisa digunakan oleh group dengan kapasitas 150 orang. Namun kedepan tidak menutup kemungkinan kalau perorangan bisa menggunakan fasilitas ini untuk merasakan “liburan keren ala sosialita” dengan harga mulai 900 ribuan per pax. Harga ini sudah termasuk makan selama berlayar loh, mulai dari sarapan, makan siang, dan kudapan menjelang sore. Makanannya dijamin enak-enak perpaduan masakan asia dan barat.

Thank you for having Us
Thank you for having Us
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
10 Responses
  1. Kak Lek, aku semakin mopeng ingin naik kapal pesiar de Kartini ini suatu saat. sudah banyak membaca tulisan dari teman-teman Bogor maupun kepoin Instagram nya. Keren banget kalau di Jakarta ada wisata seperti ini

  2. Wah banyak wajah-wajah yang kukenal. Ada mbak Terry yang pernah ketemu di famtrip Kendal, Sabarian si teman lama, dan Andrew food instagrammer Bandung. Sungguh sebuah pengalaman berharga ya bisa naik Kapal Pinisi yang megah dan besar.

Leave a Reply