3 Lembar 5 Ribu Rupiah Untuk Menikmati 5 Menit Wisata Alam Kalibiru

“Jangan sampai telat ya, sekitar jam 10 sudah ada di lokasi”

Saya sempat mencuri dengar pembicaraan teman saya di telepon dengan seseorang di seberang sana. Rasa penasaran pun mengusik saya.

“Kenapa harus sebegitu ketatnya time schedule di wisata alam Kalibiru, Kulon Progo?”

“Kita kan hanya mau mengunjungi wisata alam, sama seperti berkunjung ke Kebun Raya kan?. Kenapa pula harus diburu dengan waktu?”

Menempuh perjalanan sekitar 1.5 jam dari pusat kota Yogyakarta, kami memasuki wilayah Desa Wisata Kalibiru, Kulon Progo. Pemandangan pertama yang menyambut kami adalah hamparan Waduk Sermo dari ketinggian. Kami memang tidak berniat singgah di waduk ini maka kendaraan kami arahkan terus ke atas hingga ke ketinggian 450 mdpl.

Setelah memarkirkan kendaraan, kami harus berjalan sedikit menanjak sampai ke loket. Seorang bapak menyapa hangat teman saya sambil berbincang tentang project entah apalah yang hanya dimengerti mereka. Selesai berbincang, sang bapak menyerahkan beberapa lembar tiket. Pertanyaan kembali menghampiri saya.

“Tadi kan kami sudah beli tiket masuk, lalu ini tiket apalagi?”

Rp 15.000,- untuk 5 menit bersama alam semesta

Satu pohon yang tumbuh menjulang
di bibir tebing menyambut kami. Dari tempat saya berdiri, saya hanya melihat 1
orang petugas yang menjaga perangkat keamanan dan 1 orang pengunjung yang
sedang berpose di atas ambalan kayu sementara di sisi seberang ada seorang juru
foto yang mengabadikannya. Berjalan semakin dekat dengan pohon tersebut saya
dikejutkan dengan antrian panjang yang mengular, belum hilang rasa kaget saya,
seorang penjaga menanyakan tiket berfoto saya. 
Wah… saya baru tahu ternyata tiket yang dipegang oleh teman saya
adalah tiket berfoto. Ternyata untuk berfoto dengan alam semesta saja saat ini
kita harus bayar. Entah pula saya harus bersyukur atau tidak, ternyata tiket
foto seharga 15.000,- ini sudah diperjualbelikan sejak pagi bahkan sebelum
wisata alam Kalibiru ini dibuka setiap harinya (serasa mau nonton concert di JHCC). Rupanya teman saya
sudah membooking-kan tiket untuk
berfoto makanya sang Bapak mewanti-wanti kami agar tidak terlambat sampai di
Kalibiru. Sedikit menebalkan muka akhirnya kami berpindah posisi dari belakang
barisan menuju ke depan dan ternyata sistem booking
tiket seperti ini sudah umum dilakukan oleh pengunjung-pengunjung yang ogah antri berlama-lama. Memang saat ini
sudah tersedia 3 titik untuk berfoto, namun titik pertama ini tetap menjadi
titik favorit para pengunjung karena berada di posisi yang paling tinggi.
 

Keamanan yang cukup terjaga

Setiap pengunjung diberikan waktu
5 menit untuk bebas berfoto di ketinggian dengan latar pemandangan Waduk Sermo.
Untuk yang menggunakan jasa foto, nantinya tinggal menebus hasil foto
tergantung banyaknya foto yang diambil. Semakin siang pengunjung yang akan berfoto memang semakin ramai. Menurut salah satu petugas keamanan, saat musim liburan antrian bisa terus mengular sampai menjelang sore. Nikmatilah indahnya alam Kulon Progo
seharga Rp 3.000 permenitnya (kembali ke masa kejayaan premium call)
 

Uji adrenalin di wahana jembatan gantung dan flying fox

Memang agak aneh saat kita diharuskan
untuk membayar saat akan berfoto dengan alam (bahkan foto dengan Alam adiknya
Vety Vera saja saya yakin gratis), padahal kita sudah membeli tiket masuk ke
Desa Wisata Kalibiru ini. Tapi saya juga tidak bisa membayangkan apa jadinya
jika kita harus memanjat pohon setinggi kurang lebih 3 meter yang bertengger di
bibir tebing tanpa ada petugas yang mengawasi dan mengatur antrian. Masih ingat
insiden runtuhnya jembatan di Aceh karena banyaknya orang yang berjejalan di
atas jembatan atau insiden rusaknya kebun bunga Amaryllis warga Gunung Kidul
yang habis diinjak-injak pengunjung.
 

Jalan-Jalan Jeprat-Jepret

Yaa… mungkin dengan membayar
“double” selain untuk menjaga infrastruktur di lokasi juga sebagai screening agar pengunjung yang datang
bisa lebih menghargai satu destinasi wisata. Tidak seenaknya merusak fasilitas
yang ada, apalagi sampai merusak alam sekitar. Walaupun yang terbaik adalah,
membayar atau gratis, murah atau mahal, sudah menjadi kewajiban kita untuk
menjaga alam dan seluruh destinasi wisata, karena jika semua hancur kemana lagi
kita akan berlari dari kepenatan??
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
4 Responses

Leave a Reply