It’s A Piece of Heaven at Gili Lawa

“Kita harus memutar bukit, kurang lebih 1-2 jam untuk sampai ke puncak”

Keraguan muncul di benak kami saat melihat jalur pendakian Gili Lawa yang mencapai 60 derajat saat menjelang puncak. Apalagi teman saya sempat tumbang saat melakukan pendakian di Pulau Kelor dengan tinggi yang tidak seberapa itu. Tinggi puncaknya mungkin 2 kali dari Pulau Kelor. Salah seorang ABK, Adrian, akhirnya menawarkan untuk mengantar kami melewati rute yang lebih mudah dengan konsekuensi waktu tempuh yang lebih lama.

Kami sempat tercengang, apa iya kami harus berjalan kaki 2 jam sementara teman-teman lain yang mendaki 60 derajat hanya butuh waktu 15-20 menit untuk mencapai puncak? Ahhh… yang penting kami bisa sampai di puncak dengan selamat walaupun harus mengorbankan waktu dan jarak yang lebih panjang.

Panorama Gili Lawa
Panorama Gili Lawa

 

Kawanan rusa dan puji syukur di Gili Lawa

Petang kedua kami merapat di bibir Pulau Gili Lawa. Tak seperti di Pulau Padar yang mengharuskan kami berkano untuk ke tepi pantai, di Gili Lawa kami bisa merapat hingga ke bibir pantai dan menghabiskan sisa petang kami di pasir lembut berlatar savana yang dibentengi bukit-bukit menguning.

Kawanan rusa di Gili Lawa
Kawanan rusa di Gili Lawa

Kawanan rusa terlihat mendongakkan kepala saat mesin kapal berderu keras sebelum labuh di bibir pantai. Mungkin mereka terusik atau mungkin mereka menyapa manusia-manusia kota yang sedikit norak kegirangan melihat 4 sampai 5 ekor rusa yang sedang merumput. Bukan dari balik teralis besi, memang rasanya berbeda saat melihat kawanan rusa ini ada di habitat aslinya.

Berlabuh di Gili Lawa Flores
Berlabuh di Gili Lawa

Berbeda dengan sang Komodo yang terlihat acuh saat ada manusia mendekat, kawanan rusa ini bergerak menjauh begitu kami menjejakkan kaki di daratan Gili Lawa. 2 ekor rusa bahkan menghilang di balik bukit sementara 2 lainnya hanya bergerak sedikit menjauh dan melanjutkan merumput. Kami adalah tamu bagi mereka, kami memutuskan untuk tidak mengusik mereka lebih lanjut.

Suasana menjelang petang di Gili Lawa
Suasana menjelang petang di Gili Lawa
Jalan jalan Jeprat jepret di Gili Lawa
Jalan jalan Jeprat jepret di Gili Lawa

Layaknya Padar yang dipenuhi dengan spot-spot indah, kami juga tidak ingin melewatkan keindahan Gili Lawa apalagi saat itu terang masih menemani. Kami mendaki bukit terdekat dan lagi-lagi kami disajikan dengan pemandangan yang sangat indah, rasanya tidak ada 1 pun sudut buruk di Kepulauan Komodo ini.

Suasana petang yang tenang di Gili Lawa
Suasana petang yang tenang di Gili Lawa

Cukup lama kami berada diatas bukit hingga gelap mulai menggelayut. Kami memutuskan untuk segera turun walaupun sedikit berat karena ini senja terakhir kami di Kepulauan Komodo. Tiba di bibir pantai kami membuat api unggun menikmati sejuk hembusan angin pantai. Dan ternyata terang lidah api mengundang beberapa ekor rusa mendekat. Cukup dekat mereka mengais pasir pantai.

Rusa-rusa ini mungkin bergabung merayakan puji syukur kami yang diberikan kesempatan untuk menikmati indahnya alam timur Indonesia.

Malam terakhir di Kepulauan Komodo
Malam terakhir di Kepulauan Komodo

 

Kawanan bule dan kekaguman di Gili Lawa

Dari 10 peserta trip, 7 orang akhirnya memutuskan menempuh rute aman yang kami pilih. Gelap sepertinya membuat beberapa orang berpikir ulang untuk mendaki di kemiringan 60 derajat puncak Gili Lawa. Tanpa ada beban untuk mengejar matahari terbit, kami berjalan santai menikmati hangat pagi yang mulai menerpa.

Benar memang baru sekitar 15 menit kami berjalan, kami mendengar teriak bahagia 3 teman kami yang telah sampai lebih dahulu di puncak Gili Lawa. Mereka menyemangati kami untuk bergegas menyusul mereka. Rute yang kami tempuh memang jauh, tapi terbukti rutenya sangat mudah dengan banyak jalur
datar.

Gerbang menuju Kepulauan Komodo
Gerbang menuju Kepulauan Komodo

Ternyata hanya 1 jam kami hampir tiba di puncak Gili Lawa. Mendekati puncak banyak tumpukan batu yang disusun menyerupai monumen kecil oleh beberapa pengunjung sebagai penanda bahwa mereka pernah ada di puncak Gili Lawa.

Kami tak lagi menghiraukan cerita 3 teman kami tentang sulitnya rute daki yang mereka tempuh. Kami terlalu terpesona dengan pemandangan dari atas Gili Lawa ini. 2 dataran yang menjorok ke tengah laut dari Pulau Komodo dan Pulau Gili Lawa seakan membentuk gerbang untuk masuk ke indahnya gugusan pulau-pulau di Kepulauan Komodo.

Monumen batu di Gili Lawa
Monumen batu

Kami adalah rombongan pertama yang mencapai puncak Gili Lawa. Tak lama berselang sekawanan bule terengah-engah setengah merayap di bawah kami. Muka mereka merah padam terpapar terik matahari pagi belum lagi badan yang bermandi keringat. Setibanya dipuncak sambil mengatur napas dan mencari batu untuk duduk, mereka berceloteh tentang sulitnya rute pendakian yang mereka lalui.

“15 minutes of hell”, ujar mereka.

“15 minutes of hell but you will find piece of heaven up here”

Panorama Gili Lawa dari puncak tertinggi
Panorama Gili Lawa dari puncak tertinggi

Setelah kawanan bule ini berhasil mengatur napas dan menyadari betapa indahnya pemandangan dari puncak Gili Lawa, kami yang sudah cukup lama berada di puncak, perlahan mundur mempersilahkan kawanan bule ini terkagum-kagum akan indahnya alam timur Indonesia.

Gili Lawa
Gili Lawa

Hari terakhir namun bukan tujuan terakhir kami di Kepulauan Komodo. Gili Lawa telah menyajikan pemandangan indahnya untuk kami. Deru mesin kapal mulai meraung. Dari sisi kapal, di tengah savana terlihat kawanan rusa yang kembali menegakkan badannya menatap kapal kami menjauhi bibir pantai. Di atas puncak sana terdengar teriakan puas dan kagum dari kawanan bule.

Baca juga: Ujung perjalanan di Pulau Kanawa

Jalan-jalan Jeprat-jepret di Gili Lawa
Jalan-jalan Jeprat-jepret

Mengutip pernyataan seorang bule yang masih sedikit terengah-engah:

“Its a piece of heaven up here at Gili Lawa”

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.

Leave a Reply