12 Tahun Mengenang Tsunami di Museum Tsunami Aceh

 

Pukul 8 pagi saat Aceh mulai
menggeliat di Minggu pagi. Di pesisir Lampuuk, seorang bapak mengucap salam
kepada keluarganya. Dia berjalan menyusur tepi pantai menuju perahu kayunya.
Bersiap mencari tambahan hasil jaring di jermal tak jauh dari bibir pantai.
Para ibu bergegas menuju pasar ikan di Ulee lheue sambil memutar otak “masak apa saya hari ini untuk buah
hatiku”
Jalanan mulai dipadati hilir mudik warga saat bumi berguncang
hebat. Gempa dengan kekuatan hebat meluruhkan beberapa bangunan di Aceh. Belum reda
rasa panik, dentum menyerupai meriam terdengar jauh di tengah lautan. Kala itu
bunyi letupan senjata memang tak asing bagi warga saat terjadi pergolakan di
Serambi Mekkah. Warga di pesisir pantai berlomba memunguti ikan yang
menggelepar saat air laut surut jauh ketengah samudera. Tak ada tanya di benak
mereka, apa gerangan yang terjadi.
Museum Tsunami Aceh

 

Tetiba ombak setinggi puluhan
meter berkejaran kembali ke bibir pantai siap menyapu apa saja yang
menghalanginya. Aceh panik seketika kala itu. Jalan-jalan mulai digenangi air
keruh yang membawa serta puing-puing, pepohonan, reruntuhan bangunan, lalu
tanpa aba-aba sang ombak sudah menerjang dengan kecepatan menyamai kecepatan
pesawat. Hitungan detik Aceh tenggelam dalam air keruh, puing-puing dan ribuan
jenazah.
Mengenang para korban tsunami

 

Hari ini tepat 26 Desember, 12
tahun berlalu sejak bencana besar mengguncang dunia. Duka masih meremang tiap
kali mengingat kejadian yang merenggut ratusan ribu nyawa saudara-saudara di
bumi Serambi Mekkah. Terlebih saat saya mempunyai kesempatan mengunjungi salah
satu situs untuk mengenang tsunami, Museum Tsunami Aceh. Meski hanya gambaran
sekilas, setidaknya museum karya Ridwan Kamil ini mampu membawa saya merasakan kekalutan
yang terjadi kala itu.

 

Space of Fear

 

Lorong gelap dan sempit dengan
air yang mengalir di dinding kiri dan kanan. Jalan yang sedikit menurun dan
berair, hembusan angin dingin dan suara debur ombak mampu menghadirkan suasana
saat gelombang tsunami menerjang. Gelap, basah dan dingin tentunya. Sayangnya
suasana yang ramai dan pengunjung yang terus mendesak maju, saya tidak bisa
mengabadikan lorong tsunami ini.
Sumber : https://3.bp.blogspot.com/-1AQ3gQhx3yc/V6aguLSTjsI/AAAAAAAAAeo/ioviKocA-w8plztfdbwAJl8huhkHdC1JACLcB/s640/lorang_cerobong_musium_tsunami_aceh.jpg

 

Space of Memory

 

Ruangan berdinding kaca ini
menggambarkan kondisi bawah laut. Kebingungan para korban tsunami yang
ditenggelamkan gelombang tsunami digambarkan dengan pantulan kaca. Cahaya remang
di langit-langit merefleksikan cahaya matahari yang menembus ke dasar lautan. 26 monitor yang menganalogikan kondisi bawah laut yang berkarang
menampilkan foto-foto untuk mengenang kedahsyatan tsunami.
Sumber :
http://www.bandaacehtourism.com/wp-content/uploads/2014/05/museum-tsunami_8563-620×413.jpg

 

Space of Sorrow

 

Memasuki sumur doa ini seketika
duka mengudara. Lantunan ayat-ayat Alquran terdengar lirih pilu berkumandang mengiringi kurang
lebih 2000 nama korban tsunami yang tercantum di dinding silinder setinggi 30
meter. Jauh diujung atas tulisan kaligrafi “Allah” terlihat indah dan
sakral, menggambarkan bahwa semua mahkluk hidup akan kembali pada Sang
Pencipta. Selain itu cerobong ini juga menggambarkan usaha para korban tsunami untuk keluar dari gulungan tsunami

 

Sumur Doa

 

Space of Confuse

 

Selepas berduka, lorong cerobong yang
berputar-putar ini menggambarkan kebingungan warga Aceh setelah berhasil keluar dari murka tsunami. Kebingungan akan arah tujuan, kebingungan mencari sanak saudara yang
hilang, dan kebingungan karena kehilangan harta dan benda. Lorong gelap yang
semakin keatas menjadi terang sedikit demi sedikit untuk meyakinkan warga Aceh
bahwa selalu ada jalan dan terang diakhir bencana.
Lorong berputar menggambarkan kebingungan mencari arah

 

Space of Hope

 

Jembatan yang membentang
diterangi cahaya matahari menggambarkan secercah harapan untuk warga Aceh. 54
bendera negara dan batu bundar yang bertuliskan kata damai merepresentasikan
negara-negara yang turut andil dalam membangun Aceh kembali. Damai pun
diserukan agar tak ada lagi konflik meraja di bumi Aceh.
Jembatan Harapan

 

Selain ruangan-ruangan ini, di
Museum Tsunami juga terdapat mini bioskop yang memutar video dokumenter saat
terjadi tsunami. Bagaimana kalang kabutnya warga Aceh terekam jelas di video
amatir. Dahsyatnya kerusakan yang disebabkan dan penggambaran wajah Aceh
setelah tsunami menerjang. Aceh lumpuh total, jenazah bergelimpangan. Selain
itu juga terdapat diorama dan ruang pamer pajang beberapa benda yang hancur
terkena tsunami seperti alat rumah tangga dan sepeda motor. Di lantai 3
terdapat informasi yang cukup lengkap mengenai tsunami agar masyarakat,
terutama warga Aceh lebih tanggap terhadap tanda-tanda yang muncul sebelum
tsunami menerjang. Museum Tsunami ini juga dapat digunakan sebagai banguan evakuasi saat tsunami terjadi kembali. Bentuknya yang meruncing di kedua ujung berfungsi sebagai pemecah ombak layaknya bahtera.
Diorama yang menggambarakn Aceh setelah terjadi tsunami

 

Tanpa bermaksud membuka luka yang
telah mengering, seperti halnya Museum Tsunami ini menjadikan tragedi tsunami
sebagai pembelajaran, sebagai pengingat untuk lebih bersyukur, menanamkan bahwa
ada kuasa Yang Esa  di atas segalanya.
Jika boleh saya andaikan, Aceh seperti terlahir kembali, tsunami layaknya air
yang mencuci semua luka lama dan menghadirkan Aceh yang baru. 12 tahun sudah
kini tanah rencong berkembang pasca tsunami. Layaknya beranjak dewasa, Aceh kini lebih
damai, lebih bersahabat dan menawan

54 negara yang membantu Aceh

Catatan C4ME :
1. Untuk lebih mendalami tragedi tsunami, ikutilah alur perjalanan per ruang dengan berurut.
2.  Saat gempa mengguncang Aceh 2012 silam, Museum Tsunami dijadikan lahan evakuasi oleh warga setempat karena dikhawatirkan terjadi tsunami

Sumber : https://bandaacehkotamadani.files.wordpress.com/2012/08/museum-tsunami-aceh1.jpg
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
6 Responses

Leave a Reply