Ngurtafur, Bukan Pulau Gosong Biasa

Jujur saja saat pertama kali tahu akan berkunjung ke Kei, hanya ada 3 lokasi yang sangat ingin saya kunjungi, yaitu Ngurbloat, Ngurtafur dan Goa Hawang. Jadi saat dari pagi saya tahu bahwa jadwal hari itu mengunjungi Ngurtafur, dalam hati sudah berdebar layaknya anak-anak yang akan pergi berdarma wisata. Kesenangan saya sempat terganggu dengan kabar kurang mengenakan tentang sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu yang akan membawa kami ke Ngurtafur. Alhasil kami harus menunggu di dermaga, berharap kabar baik.
Pantai Ngurtafur

Seingat saya sudah hampir pukul 3 sore saat kami beranjak meninggalkan dermaga Debut di Desa Ohoi Debut. Matahari masih bersinar terik memanggang punggung kami namun di depan sana awan gelap mulai bergerombol memadati awan. Perahu tak beratap yang menampung 7 dari kami melaju tenang di awal. Tak berapa lama kondisi laut yang mulai bergolak memaksa perahu kami menampar ombak. Awalnya hanya memercik, lama kelamaan berapa dari kami yang duduk di sisi kira perahu termasuk saya, tak ubahnya mandi. Basah kuyub, kami hanya bisa tertunduk menahan perihnya air laut yang masuk ke mata. Untungnya kamera, telepon genggam dan baju ganti semua sudah saya masukkan kedalam drybag. Teman yang tak menyangka perjalanan kami akan se “seru” ini sibuk memastikan tas kameranya tak terkena cipratan air laut.

Perairan jernih dengan terumbu karang
1 jam lebih kami pasrah dimandikan oleh samudera hingga perahu melambat. Di depan kami terdapat pasir putih memanjang meliuk hingga jauh menembus hutan di cakrawala. Pasir ini adalah pasir yang timbul saat laut surut. Pulau Seribu, Pulau Karimun, Pulau Komodo, sepertinya hampir semua kepulauan mempunyai pasir timbul macam ini atau yang kerap disebut dengan pulau gosong karena tak berhuni, tak hijau hanya ada pasir di tengah laut. Bedanya, pasir timbul di Ngurtafur memanjang ke tengah laut sepanjang 2 kilometer. Bentuknya memang akan terlihat lebih sempurna jika dilihat dari ketinggian, wujudnya seperti ular putih yang meliuk membelah laut merangsek masuk ke pulau kecil yang dipenuhi pepohonan.
Seperti ular putih meliuk
Menyusuri pasir putih mengikuti alurnya yang meliuk pun tak kalah mengasyikkan. Airnya yang biru jernih seakan mengundang kami untuk membenamkan diri. Jika beruntung, katanya kita bisa menemukan kawanan Pelikan atau Penyu Belimbing melintas di sini. Sayangnya kami memang kurang beruntung, ada yang bilang hanya di bulan-bulan tertentu kita bisa bertemu 2 hewan eksotis ini. Namun yang lain menyebutkan sang pelikan dan sang penyu sudah enggan mampir ke pulau ini karena kerap terganggu dengan kehadiran manusia-manusia. Mereka memilih mencari pulau lain yang masih belum terjamah. Ada ataupun tak ada pelikan dan penyu belimbing, Ngurtafur tetap menawan dengan liukan pasirnya. Alih-alih bertemu unggas dan reptil kami malah bertemu molukas besar yang awalnya kami kira batu.
Pasir halus Ngurtafur
Siap berjalan sejauh 2 Km
Ini namanya apa ya?
Awan gelap yang masih saja menggantung rendah sepertinya membuat sang senja setengah hati menampakkan ronanya. Hanya sesaat sebelum menghilang ditelan cakrawala kami bisa menikmati hangatnya yang tak terhalang awan gelap. Sementara di belakang kami awan gelap mulai murka sepertinya, titik-titik air mulai berjatuhan memaksa kami segera meninggalkan Ngurtafur. Entah murka entah peringatan dari awan agar kami tak terlena terlalu lamu di pulau tak berhuni. Nyatanya kami pulang dalam gelap. Baru kali ini saya merasakan membelah laut dengan sebilah perahu kecil dalam pekat malam dan baru kali ini pula saya merasa cahaya bulan sangat membantu di tengah gelap. Setidaknya saya masih bisa menatap wajah teman-teman saya.  Untungnya laut lebih bersahabat dan tenang, rintik hujan pun tak berlanjut. Jadi sepertinya titik-titik air di Ngurtafur sekadar teguran dari awan agar kami segera pulang sebelum larut semakin tinggi.
Senja Ngurtafur
Masih diberi senja yang indah
Pulang saat hampir gelap
Perjalanan ini sebagai bagian perjalanan bersama ayojalanjalan.com
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
24 Responses
  1. koh, kamu udah beruntung banget bisa ke ngurtafur. coba, berapa banyak orang indonesia yang pernah ke sini? 😀
    anggaplah yang lain adalah bonus.

    aku belom pernah ke gosong seperti ini. jadi penasaran apakah tekstur pasirnya sama dengan pantai di pulau.

  2. Membayangkan membelah laut malam-malam dengan perahu kecil, yang hanya bulan sebagai penerang. Mungkin itu juga yang dialami oleh para pelaut zaman dulu atau para nelayan kita saat ini. Tapi tetap saja seram membayangkan sekalipun tidak ada ombak. Tapi pulaunya cantik sekali layak untuk diperjuangkan 🙂

  3. Duh sepertinya ini pantai terluas yang pernah aku lihat, luas, putih, dan indah. Aku yang liat lewat foto saja sudah puas memanjakan mata. Hmm next destination tahun ini kayanya harus ke sini ya..
    Oh iya koh, ada rekomen penginapan yang bagus ga?

Leave a Reply