Pantai Ngurbloat, Senja Pertama di Pulau Kei

Ngur Bloat atau pasir panjang, begitu adanya pantai yang terletak di desa Ngilngof. Pesisir pantainya memanjang hampir sepanjang 3 kilometer dan beralaskan pasir sehalus bubuk susu. Seperti sebelumnya saat menyambangi Pantai Ohoidertawaun, kendaraan kami keluar masuk perkampungan berulang-ulang tanpa saya tahu nama-nama kampung yang kami lalui. Kami hanya yakin bahwa pengemudi kami berada di rute yang benar menuju ke Pantai Ngurbloat.

Secara infrastruktur, Pantai terlihat lebih maju dibanding Ohoidertawun. Di Pantai Ngurbloat juga setiap tahun di awal bulan Oktober hingga November diadakan Festival Meti Kei. Saat air laut surut hingga beberapa ratus meter ke tengah lautan. Secara resmi, Festival Meti Kei baru diadakan 2 kali. Fenomena Meti Kei ini cukup menarik banyak wisatawan, terlebih tahun lalu festival ini sempat diliput oleh acara jalan-jalan di salah satu TV swasta.

Deretan saung di Pantai Ngurbloat
Deretan saung di Pantai Ngurbloat. (Dok. virustraveling.com)

Sesaat setelah memarkirkan kendaraan, kami sudah bisa melihat saung-saung kecil cukup banyak bertebaran di tepi pantai. Sekitar pukul 3 sore kala itu, masih banyak waktu sebelum menyaksikan surya tenggelam di Pulau Kei. Kudapan, teh dan kopi menemani istirahat sore kami sebelum mulai menjelajah indahnya Ngur Bloat. Pisang goreng dan singkong goreng di sini dilengkapi pula dengan sambal. Kudapan lain yang tak kalah nikmat adalah rujak pepaya yang segar disantap di tepi pantai sambil menikmati hembusan angin pantai.

Baca juga: Pantai Ngurtafur, bukan Pulau Gosong biasa

Pesisir Pantai Ngurbloat sepanjang 3 km
Pesisir Pantai Ngurbloat sepanjang 3 km

Sudah lama saya tak menemui pantai dengan pesisir indah berbatasan dengan hutan kelapa. Di sebelah selatan pantai banyak dipenuhi hutan kelapa dan segelintir rumah penduduk. Di bagian ini pula lebih banyak terlihat perahu-perahu nelayan tertambat. Yang menarik di sini, ada satu pohon kelapa yang posisinya merebah ke tengah pesisir pantai. Pohon ini kerap kali dijadikan properti berfoto para turis yang berkunjung ke sini. Jika punya cukup nyali bahkan kita bisa meniti pohon kelapa dan berfoto di ujungnya.

Saya sempat mencoba dan ternyata tak semudah kelihatannya. Batangnya yang semakin mengecil ke bagian pucuk dan guncangan yang semakin keras membuat saya harus merayap bak cicak untuk menuju ke bagian tengah pohon. Untuk turun pun sama sulitnya. Tak mungkin memutar badan sehingga saya harus melompat dari atas pohon dan ternyata tingginya lebih dari 2 meter. Alhasil saya harus sedikit bergantung sebelum melompat turun. Oleh-olehnya? sedikit lecet-lecet di bagian paha dan telapak tangan.

Baca juga: Di Pantai Metro Tual, berkumandang Tanah Airku

Pohon kelapa yang merebah ke tengah
Pohon kelapa yang merebah ke tengah

Langit mulai merekah merah sementara masih ada sisi utara Pantai Ngurbloat yang belum sempat kami sambangi. Saya baru merasakan betapa panjangnya pesisir pantai saat saya harus menyusuri bibir pantai Ngurbloat. Sepertinya benar adanya jika panjang pesisir ini mencapai 3 kilometer.

Sepanjang perjalanan pula saya melintasi deretan warung-warung makan yang menjorok masuk ke dalam. Hanya satu tenda yang berdiri di pasir Pantai Ngurbloat ini beserta kursi-kursi malas warna-warninya. Jangan bayangkan hingar bingar dentum musik layaknya di Bali. Tanpa lampu berkilap dan musik yang mengalun pelan, suara debur ombak dan desir angin masih meraja. Sepertinya penjaga warung mengerti bahwa suara alam yang mengalun lebih indah dari musik manapun.

Suasana Santai di Pantai Ngurbloat
Suasana Santai di Pantai Ngurbloat
Pantai Ngurbloat yang masih sepi pengunjung
Pantai Ngurbloat yang masih sepi pengunjung

Baca juga: Goa Hawang, goa para arwah

Pantai Ngurbloat masih menyisakan hamparan pasir putihnya yang memanjang di depan kami, namun kami memutuskan berhenti di salah satu restoran yang terbengkalai. Mengingat surya akan segera bergulir berganti malam. Tak seperti sisi selatan yang dipenuhi perahu nelayan, di sisi utara hanya ada pasir yang memerah dan garis cakrawala. Ada 1 menara tepat di depan restoran yang kondisinya sama-sama terbengkalai namun masih bisa kami naiki. Dari atas sini dahan-dahan pohon membingkai momen surya tenggelam dengan sempurna.

senja di pantai ngurbloat
senja di pantai ngurbloat
Menara Pandang di pantai ngurbloat
Menara Pandang di pantai ngurbloat

Dalam keadaan gelap kami kembali ke saung tempat kami meletakkan barang-barang. Satu-satunya saung yang menyala lampunya dalam kegelapan. Ya…meskipun indah, sepertinya masih sangat sedikit turis lokal atau mancanegara yang berkunjung ke pantai-pantai indah di Pulau Kei.

***

Perjalanan ini sebagai bagian perjalanan bersama ayojalanjalan.com

About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
16 Responses
  1. Waduh, Kepulauan Kei ini masuk bucket list , destinasi impian. Pasirnya seputih susu bubuk ya. Bagus banget.

    Mau nanya…
    1. Eksplor Kepulauan Kei idealnya berapa lama ?

    2. Kalian kompak banget difoto selalu barengan..apa rahasianya?

    3. Gimana kabar pohon kelapa yg diduduki barengan ituuh?

  2. Anjay.. 2 meter an ngelompat. Wkwkwkw… Tapi di bawah masih pasir kan mas? Gpplh lecet lecet dikit demi keindahan foto di instagram wkwkwk…. Daripada di bawahnya itu batu karang yang tajam. Setajam kemarahan mantan minta putus yang selalu terngiang2 dalam benak. Eh apasik

  3. Nggak perlu jauh ke hawaii yaa, ini pantainya gak kalah kece ��

    Masih bersih, langit biru terang.. Semoga aja kalo udah populer, wisatawan bisa tetep jaga kebersihan di sekitar pantai gak buang sampai sembarangan 🙂

Leave a Reply