Pulau Sembilan, Pulau Ubur-ubur Tanpa Sengat

Panas menyengat siang itu. Terang terakhir kami di tengah samudera sebelum kami menyudahi perjalanan kami di perairan Kepulauan Komodo. Langit biru tak berawan menjadi latar sebentuk pulau tak berpenghuni yang terapung jauh di horizon.

“Di sana nanti kita bisa lihat ubur-ubur tanpa sengat” 

Berbekal informasi singkat, padat, tak jelas ini kami seperti anak ayam tanpa induk. Bingung…tak tahu harus mempersiapkan apa. Saat kami mencari-cari snorkler dan google, salah satu ABK berkata bahwa alat tersebut tidak dibutuhkan. Lalu bagaimana cara kami melihat ubur-ubur?

Karang yang membentuk pulau kecil
Tak lama berselang kami mendekat ke
pulau tak berpenghuni. Pulau kosong yang akhirnya kami tahu bernama Pulau
Mangiatan atau lebih di kenal dengan nama Pulau Sembilan karena memang secara
harafiah jika dilihat dari ketinggian pulau ini berbentuk seperti angka
sembilan. Perairan jernih dan segala penghuninya yang hilir mudik di bawah perahu
menyambut kami. Terumbu terlihat jelas dari atas perahu sehingga ABK memutuskan
untuk tidak merapat di bibir pantai Pulau Sembilan. Demi menjaga barisan
terumbu kami akhirnya menepi menggunakan sampan.

Di antara terik matahari dan tajam karang

Gundukan putih Pulau Sembilan
ternyata terbentuk dari karang-karang mati yang menggunung membentuk sebuah
pulau kecil. Kami yang lagi-lagi tanpa persiapan apapun, tanpa alas kaki cukup sulit
untuk berjalan di atas karang-karang tajam. Entah kami harus mengindahkan panas
menyengat di atas kepala atau merisaukan tajamnya karang yang menusuk di
telapak kami. Sekitar 10 menit kami berjingkat menahan pedih di kaki dan rasa
terbakar di lengan hingga salah satu ABK berteriak 

“Di sini…banyak ubur-uburnya!!!” 
 

Kolam berisi ubur-ubur saat surut, seperti tempat pembuangan limbah

Kami bergegas menuju arah suara
sang ABK, di benak kami, mungkin saat ini kami sedang menuju ke bulatan angka
sembilan. Kami terpana. Entah bagaimana alam dan Sang Pemilik Semesta bisa membentuk
karang-karang mati ini menyerupai angka sembilan dengan kolam di tengahnya.
Tepat di bulatan angka sembilan adalah kolam yang berisi ubur-ubur tanpa
sengat. Sayangnya siang itu kolam ubur-ubur yang berdiameter sekitar 20 meter
ini sedang dalam kondisi surut menyisakan air tak lebih dari 50 sentimeter.
Jikapun kolam ini terisi penuh, sepertinya hanya akan berkedalaman sekitar 2
meter. Mungkin ada baiknya untuk tidak snorkling
bersama ubur-ubur di sini mengingat kolam yang sangat dangkal, tumbuhan dan
ubur-ubur yang berada di dasar kolam pasti akan terinjak-injak. Dari kejauhan
kolam ini layaknya kolam pembuangan limbah berwarna hijau tapi saat kami
mendekat, warna hijau tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan air yang memang
tumbuh merata di dasar kolam. Ratusan mungkin ribuan ubur-ubur melekat terbalik
di tumbuhan-tumbuhan ini. Kami tak sampai hati untuk mencelupkan kaki kedalam
kolam. Akhirnya kami hanya berjongkok di bibir kolam memandangi ubur-ubur
bertentakel biru.
 

Berhati-hati untuk tidak melukai  ubur-ubur

Riak air yang muncul setiap kali
kami membenamkan tangan membuat ubur-ubur melayang terlepas dari tumbuhan air.
Ukurannya tak lebih besar dari satu kepal tangan, bahkan beberapa ada yang
hanya sebesar uang logam. Tak seperti ubur-ubur Pulau Kakaban yang berukuran lebih besar dan terdiri dari 1 warna.
Ubur-ubur di Pulau Sembilan memiliki warna biru keunguan di tentakelnya. Entah
tergolong jenis apa, karena para ABK tak dapat menjawab kami. Mesin pencari pun
tak dapat memuaskan rasa penasaran kami tentang jenis dan asal usul ubur-ubur
ini. Kesimpulan kami, kemungkinan
ubur-ubur ini memiliki nasib yang sama dengan ubur-ubur Pulau Kakaban yang
terperangkap dan kehilangan sengatnya karena tak ada predator yang memangsanya.
 

Dasar kolam dipenuhi ubur-ubur

Asyik menikmati ubur-ubur yang
menari di telapak tangan kami, rasa pedih sengatan mentari sudah tak kami
rasakan lagi. Hanya teriakan ABK dari perahu yang mengingatkan bahwa akan ada
air pasang sehingga kami harus bergegas kembali ke perahu. Satu lagi mahakarya
Sang Pemilik Semesta, sebuah pulau berbentuk angka sembilan yang terbentuk dari
gundukan karang-karang mati. Dihuni oleh ribuan ubur-ubur tanpa sengat.
Dihuni ubur-ubur bertentakel biru
About the author

Enterpreneur, Travel Blogger, Instagramer, Hotel & Resto Reviewer, Fuji Film User.
2 Responses
  1. Wah aku baru tau kalau ada ubur-ubur tak bersengat juga nih di sekitaran Kepulauan Komodo, dan juga baru kali ini mendengar nama Pulau Sembilan 🙂

Leave a Reply