Mengayuh Sejarah di Reruntuhan Kota Ayutthaya
Api berkobar di segala penjuru. Kacau teramat sangat saat itu. Entah berapa banyak nyawa melayang. Tak terhitung pula materi yang […]
Api berkobar di segala penjuru. Kacau teramat sangat saat itu. Entah berapa banyak nyawa melayang. Tak terhitung pula materi yang […]
“Jangan sampai telat ya, sekitar jam 10 sudah ada di lokasi” Saya sempat mencuri dengar pembicaraan teman saya di telepon
Sejatinya indah…makna dari Jatiluwih, salah satu desa di Bali yang terkenal dengan areal persawahan berundak atau terasering terbesar di Bali,
Ngintir atau bahasa bakunya hanyut atau terhanyut. Demi menapak tilas perjalanan Sunan Kalijaga menghanyutkan kayu-kayu di Sungai Kreo untuk dijadikan
Wajah-wajah berpeluh menepi mencari sandaran di Kuli Lord Murugan di Batu Caves Kuala Lumpur. Mereka bersandar sekenanya di tepian tangga
Dahulu, Lombok—pulau seribu masjid—tenggelam oleh pesona Bali. Belum lagi krisis tahun 1998 dan kerusuhan antar etnis di awal tahun 2000
Lubang menganga berdiameter 50 meter menyambut saya begitu tiba di kawasan Goa Jomblang Gunung Kidul. Saya sendiri cukup kaget karena
Matahari merambat meninggi perlahan saat kami melintasi gerbang Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Kabut tipis mengambang perlahan-lahan tersibak hangatnya sinar mentari.
Meski sudah hampir sore kami tiba di Pantai Ngurtafur, kami masih bisa menjejakkan kaki di pulau gosong ini. Wajib mampir kalau lagi liburan ke Pulau Kei